Minggu, 27 September 2009

Meningkatkan Nilai Ibadah "Tingkatkan Keikhlasan & Perbaiki Niat"

Bismillah...

Alhamdulillah, Wahai saudaraku yang mencintai Sunnah. Sebagaimana yang ana sampaikan di Postingan al-awal fii Syawal, bahwa terkadang kita memang dihadapkan dengan berbagai macam amalan yang rasanya ingin semuanya kita kerjakan sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah Azza Wa jalla serta meneladani Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Namun ya… itulah, terkadang kesempatan , waktu dan fisik yang tidak memungkinkan kita untuk menuntaskan segala amal sholeh tersebut. Maka dalam kondisi yang demikian ini saudaraku, kita perlu mengetahui beberapa kaedah dalam beramal sholeh, agar apa saudaraku? Agar memudahkan bagi kita dalam memilih amalan yang memang lebih baik, berkualitas dan lebih dicintai oleh Allah Azza Wa jalla serta mengundang pahala yang lebih besar dibandingkan amalan lainnya.

Nah berikut ini ”Wallahu a’lam” ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi peningkatan kualitas amalan ibadah.

Yang pertama –tama yakni TINGKATKAN KEIKHLASAN DAN PERBAIKI NIAT.

Jadi Saudaraku yang mencintai Sunnah. Ikhlas dalam amalan merupakan tonggak asasi dalam setiap amalan sholeh. Selain itu ,kita juga harus terus meningkatkan unsure Mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dalam beribadah. Dua hal inilah wahai saudaraku sekalian...yang merupakan syarat diterimanya amalan seseorang. Di dalam Surah Al-Kahfi ayat 110 Allah Azza Wa jalla berfirman : “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Al-Hafidz Ibnu Katsir (semoga Allah Merahmatinya) : di dalam tafsirnya menyatakan bahwa orang yang mengharapkan pahala dan ganjaran-Nya hendaknya ia mengerjakan amalan yang sholeh yaitu amalan yang bertepatan dengan petunjuk syariat. Dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya yaitu amalan yang ditujukan untuk mendapatkan wajah Allah semata, tidak ada sekutu baginya.

Jadi Saudaraku Dua hal ini (ikhlas dan ittiba’) adalah dua syarat diterimanya amalan. Dimana amalan musti murni karena Allah , kemudian cocok dengan aturan dan tuntunan serta contoh dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam.

Selanjutnya, di dalam Fathul Baariy (syarah Shohih al-Bukhari) dan di dalam Shohih Muslim diriwayatkan, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “ JIka salah seorang dari kalian telah memperindah Islamnya, maka setiap kebaikan yang diamalkannya akan dicatat baginya dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus lipat. Dan setiap kejelekan yang ia kerjakan semisalnya.” Terhadap hadits ini, di dalam jami’ul Ulumi Wal Hikam, Ibnu Rajab Rahimahullahu Ta’ala Anhu menjelaskan bahwa “Pelipatgandaan kebaikan dengan sepuluh kali lipat pasti terjadi. Sedangkan tambahan yang lebih dari itu tergantung pada kebaikan nilai Islam seseorang, dan keikhlasan niatnya serta urgensi dan keutamaan amalan tersebut. Wallahu Allam Bishowab…

Yang perlu di Ingat di Bulan Syawal

Alhamdulillah…. segala puji bagi Allah Azza wa jalla, kepada-Nya kita memberikan sanjungan , memohon pertolongan dan ampunan. Kepada-Nya lah Ikhwa fillah kita senantiasa berlindung dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan kita. Semoga Allah Azza Wa jalla menyatukan kita semua untuk senantiasa mencintai-Nya dan mengikuti Sunnah Rasul-Nya.

Wahai saudaraku yang mencintai kebaikan. Menyegerakan QADHA’ puasa itu lebih baik dari menundanya, sebagimana keumuman dalil yang menunjukkan untuk segera mengerjakan amal kebaikan dan tidak menundanya. Sebagimana firman Allah di dalam al-Kitab Al-Majid , Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 133 yang artinya : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu …”

Serta di surah yang lain, surah al-Mukminun ayat 61 yang artinya : “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

Namun, dalam pelaksanaan kewajiban qadha’ puasa, tidaklah harus secara berurutan atau berkesinambungan, hal ini dikarenakan adanya keeratan sifat Qadha’ dengan sifat pelaksanaan. Yang mana hal ini sesuai dengan firman Allah Azza Wa jalla di dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 yang artinya : Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”.

Dan senada dengan nash ilahi ini, al Imam al-Bukhari membawakan perkataan Ibnu ‘Abbas, dimana Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Anhu berkata : “Tidak ada masalah untuk mengqadha’ puasa secara terpisah-pisah. Begitu juga sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, (beliau) sebagaimana yang tertulis di dalam Irwaa-ul Ghaliil, ia berkata : “Jika mau, dia boleh mengqadha’ dengan bilangan ganjil.” Sedangkan dihadits yang diriwayatkan oleh al-baihaqi dan ad-Daraquthni melalui jalan ‘Abdurrahman bin Ibrahim dari al-‘Ala’ bin ‘Abdirrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah secara marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam) : “Barangsiapa mempunyai hutang puasa Ramadhan, maka hendaklah dia mengerjakan nya secara berurutan dan tidak memutus-mutuskannya.” Dan ternyata hadits ini derjatnya dhaoif. Sekali lagi hadits ini derajatnya Dhoif. Dimana ad-Daraquthni mengatakan dhoifnya ada pada ‘Abdurahman bin Ibrahim. Juga oleh al-Baihaqi dimana dikatakan (hadits ini) dinilai dhoif oleh Ibnu Ma’in, an-Nasa’I dan ad-Daraquthni dan untuk lebih jelasnya Ikhwa fillah dapat merujuk ke kitab Irwaa-ul Ghaliil tentang perincian ke dhoifan hadits ini oleh al-Alamah Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani (semoga Allah merahmatinya). Dan tentunya ”berhati-hati lah dengan hadits dhoif”.

Selanjutnya, al-Imam Abu Dawud (semoga Allah merahmatinya) di dalam Masaa-ilnya, sebagaimana yang kami kutip dari Shifatu Shaumin nabi fii Ramadhaan, ia mengatakan : “Aku pernah mendengar Ahmad (maksudnya Imam Ahmad bin Hanbal) semoga Allah Merahmatinya, ditanya tentang Qadha’ puasa ramadhan , maka dia menjawab : “Jika mau, dia boleh melakukannya secara berurutan.

Jadi saudaraku yang menginginkan sebaik-baik tempat kembali yakni Jannah, kita diperbolehkan mengqadha’ puasa dengan pemisahan hari-hari mengqadha’, namun pembolehan pemisahan mengqadha’ puasa TIDAK berarti adanya Larangan mengqadha’ puasa secara berurutan. Dan bagi siapa yang ingin melakukannya secara berurutan diperbolehkan. Dan tentunya selain Qadha’ Puasa. Masih ada satu amalan di Bulan Syawal, yang hanya ada dibulan Syawal ”Jangan sampai terlewatkan” yakni “Puasa 6 hari Bulan Syawal”. Dimana keutamaannya sangatlah luar biasa sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, al Imam Abu Dawud, al-Imam at-Tirmidzi, al-Imam Ibnu majah, Imam Ahmad, dan yang lainnya (semoga Allah merahmati mereka), dari Umar bin Tsabit bin al-Harits, dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian ia mengiringinya pula enam hari bulan Syawal, ia seperti puasa satu tahun.”

Selain itu di dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad, al-Imam al-baihaqi, ad-Darimi, serta Ibnu Hibban (Semoga Allah merahmati Mereka) dari Yahya bin al-Harits dari Abu Asmad ar-Rahabi, dari Tsauban maula Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam, dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Beliau bersabda : “Barang siapa yang berpuasa enam hari setelah berbuka (‘Iedul Fithri), ia adalah pelengkap setahun. Bagi siapa yang melakukan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat.”

Mari kita bersegera dengan kebaikan, mari menyegerakan kebaikan.... Insya Allah !!

Rabu, 23 September 2009

al-awal fii Syawal

Bismillah…

Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, segala puji bagi Allah Azza wajalla, kepada-Nya kita memberikan sanjungan , memohon pertolongan dan ampunan. Kepada-Nya lah wahai saudaraku se-Iman se-Aqidah kita senantiasa berlindung dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan kita. Semoga Allah Azza Wa jalla menyatukan kita semua untuk senantiasa mencintai-Nya dan mengikuti Sunnah Rasul-Nya.

Ramadhan telah berlalu. Pelipat gandaan pahala, kemudahan serta kebaikan-kebaikan dari Allah di Bulan Ramadhan pergi seiring dengan kepergian sang tamu mulia Bulan Ramadhan. Nuansa Ramadhan yang istimewa pun lewat. Namun, kita kaum muslimin haruslah tetap berusaha dan berlomba untuk menggapai rahmat dan hidayah Allah Subhanahu Wata 'alla melalui peningkatan ibadah dan do’a kepada-Nya di bulan-bulan lainnya. Hanya saja terkadang kita dihadapkan pada sekian banyak amalan, yang ingin kita kerjakan semuanya. Namun kadang-kadang, kesempatan, waktu dan fisik, tidak memungkinkan kita untuk menuntaskan segala amalan sholeh yang kita inginkan, apalagi bagi yang sudah bekeluarga .

Wahai saudaraku… sebelumnya ana mau mengingatkan kembali kepada diri ana pribadi dan saudaraku sekalian, jika pada Bulan Ramadhan kemarin, ada yang melakukan hal-hal yang membatalkan puasa atau karena sesuatu dan lain hal sehingga tidak berpuasa, maka kita diwajibkan untuk mengqadha’ puasa Ramadhan yang kita tinggalkan tersebut. Dan men-Qadha’ puasa tersebut tidaklah harus dilakukan seketika. Jadi Kewajiban meng-Qadha’ dalam hal ini bersifat Fleksibel dan penuh keleluasaan. Hal ini didasarkan pada apa yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah Radiallahu Anha : “Aku pernah mempunyai hutang puasa Ramadhan, lalu aku tidak bisa menggantinya kecuali pada bulan Sya’ban.” Hadits ini diriwayatkan al Bukhari dan Muslim. Dan di dalam kitab fathul Baari (Syarah Shohih Bukhari), al Hafizh ibnu Hajar al-Asqalani (semoga Allah merahmatinya) mengatakan : “Dan di dalam hadits (“Aku pernah mempunyai hutang puasa Ramadhan, lalu aku tidak bisa menggantinya kecuali pada bulan Sya’ban.”) terkandung dalil yang menunjukkan di bolehkannya penundaan Qadha’ puasa Ramadhan secara mutlak, baik karena suatu alasan maupun tidak adanya alasan.”

Namun Ikhwa fillah sebagaimana kita ketahui bersama BAHWA “Menyegerakan QADHA’ puasa itu lebih baik dari menundanya, sebagimana keumumman dalil yang menunjukkan untuk segera mengerjakan amal kebaikan dan tidak menundanya. Sebagimana al-Kitab Al-Majid , Al-Qur’an Surah Ali Imaran ayat 133

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu …”

Dan di surah yang lain, surah al-Mukminun ayat 61 :

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Selasa, 15 September 2009

Seputar Ramadhan "Doa Lailatul Qadar"

Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan ini , bagi yang ingin menggapai Lailatul Qadar. Maka kami sampaikan do’a dari ‘Aisyah Radiallahu Anha dengan sanad shohih, dimana ia bercerita. “Pernah kutanyakan : “Wahai Rasulullah , bagaimana pendapatmu jika aku mendaptakan Lailatul Qadar, apa yang mesti aku ucapkan ? Beliau (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam) bersabda : bacalah :


اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ,


تُحِبُّ الْعَفْوَ, فَاعْفُ عَنِّيْ


“Ya , Allah, sesungguhnya Engkau Maha pemaaf, yang mencintai maaf. Karena itu berilah maaf kepadaku.” Hadits riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu majah.

Seputar Ramadhan "Kerancuan Lailatul Qadar"

Alhamdulillah…

segala puji bagi Allah Azza wajalla, kepada-Nya kita memeberikan sanjungan , memohon pertolongan dan ampunan. Kepada-Nya lah juga kita senantiasa berlindung dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan kita. Semoga Allah Azza Wa jalla menyatukan kita semua untuk senantiasa mencintai-Nya dan mengikuti Sunnah Rasul-Nya.

Alkisah… ketika ana dan beberapa teman sedang berbincang – bincang mengenai amaliah Ramadhan, tiba-tiba ada seorang teman yang bercerita, “Dulu ketika ia masih kuliah, saat KKN di suatu desa terpencil di Kalimantan Barat, yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Dimana pada suatu malam , ketika memasuki beberapa malam terakhir di Bulan Ramadhan, ia (sebutlah namanya siFulan) mendapati ada orang tua berpakaian putih-putih minta izin agar dipersilahkan masuk kerumah tempat si Fulan dan teman-temannya menginap. Saat itu suasana sunyi senyap, teman-temannya yang lain tertidur pulas hanya si Fulan yang merasakan kehadiran orang tua berbaju putih tersebut. Namun rasa takutnya lebih besar dari pada keinginannya yang lain. Menurutnya, orang tua berpakaian putih tersebut terus-menerus meminta izin kepadanya untuk masuk kerumahnya, namun isi Fulan tak menghiraukannya. Ia asik dengan ketakutannya. Akhirnya malam tersebut ia lewati dengan ketakutan dan rasa penasaran. Namun tak lama kemudian. Si Fulan menceritakan apa yang dialaminya kepada beberapa rekannya serta sanak keluarga yang dianggapnya mengerti tentang agama. Dan sungguh diluar dugaannya , ketika ia menceritakan kejadian tersebut, yang keluar dari lisan orang-orang yang diceritakannya adalah kata-kata “Bodoh !” Kenapa kamu biarkan orang tua tersebut berada di luar rumah, itu adalah Lailatul Qadar ! Aduh sayang sekali ! Harusnya kamu bukakan pintu untuknya, dan mintalah apa saja.” Lailatul Qadar kok disia-siakan ! Dan ternyata perkataan beberapa orang yang menganggap apa yang dialaminya itu adalah lailatul Qadar tertanam dalam dilubuk hatinya, sehingga saat ia menceritakan peristiwa tersebut kepada kami, masih terlihat rasa penyesalan, kenapa ia begitu bodohnya membiarkan Lailatul Qadar lewat begitu saja, padahal kalau ia sedikit saja berani melawan rasa takutnya tentunya ia telah mendapatkan Lailatul Qadar, yang tak semua orang bisa mendapatkannya atau menjumpainya.

Sungguh saudaraku se-Iman , se-Aqidah apa yang dialami oleh teman ku hanyalah salah satu dari banyaknya dugaan-dugaan yang menyimpang tentang Lailatul Qadar, masih banyak anggapan dan dugaan –dugaan lainnya mengenai Lailatul Qadar, sebagian orang berkeyakinan bahwa Lailatul Qadar itu biasanya ditandai dengan bintang jatuh, atau rebahnya pohon-pohon, juga ada yang meyakini, Lailatul Qadar akan mendatangi orang-orang yang telah ditakdirkan untuk mendapatkannya dengan menyerupai manusia yang berpakaian serba putih dan wangi, dan banyak lagi persepsi-persepsi lainnya mengenai Lailatul Qadar. Lantas bagaimana kah lailatul Qadar yang sebenarnya di dalam Islam ? Apakah benar dugaan-dugaan yang berkembang dimasyarakat mengenai Lailatul Qadar seperti yang diceritakan teman ana tersebut ?

Wahai saudaraku se-Iman se- Aqidah, Semoga Allah Azza Wa jalla selalu memberikan berkah dan petunjuk kepada kita untuk senantiasa taat kepada-Nya.

Jadi sebelumnya nih , ana ingatkan sekali lagi, , berusahalah untuk bangun malam di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan ini dan mari kita hidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah. Untuk itu ajaklah sanak keluarga kita untuk memperbanyak ketaatan pada malam-malam tersebut.

Dan di dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh al-Imam Bukhari dan Imam Muslim (semoga Allah Merahmatinya), Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu Anhu, dia bercerita : “Jika memasuki sepuluh malam terakhir, Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam memperkuat ikatan kainnya sambil menghidupkan malam itu serta membangunkan keluarganya.” Dan masih dari Umul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam berusaha keras pada sepuluh malam terakhir, yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan lainnya.

Toyib saudaraku, untuk menjawab kerancuan apa dan bagaimana lailatul Qadar, berikut ana sampaikan tanda-tanda Lailatul Qadar sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam kepada kita melalui hadits-haditsnya yakni Lailatul Qadar itu ditandai dengan matahari yang terbit tanpa sinar menyinarinya sebagai mana hadits dari Ubay Radhiyallahu Anhu, dia berkata : Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : Pagi (setelah) malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyinarinya seakan-akan ia bejana sehingga naik.” hadits ini Ikhwa fillah diriwayatkan oleh Imam Muslim (semoga Allah merahmatinya). Kemudian ada juga hadits dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Anhu , dia berkata : Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “Lailatul Qadar merupakan malam penuh kelembutan, cerah, tidakpanas dan tidakpula dingin, dimana matahari pada pagi harinya tampak lemah kemerahan.” Rawahu ath –Thayalisi, Ibnu Khuzaimah dan al-bazzar dengansanad hasan. Mari Ikhwa fillah, kapan lagi kita menghidupakan malam-malam ini mumpung hayat masih ditanggung badan , artinya ketika umur masih ada kapan lagi ?

Jadi saudaraku, telah jelas-dengan sejelas-jelasnya bagaimana Lailatul Qadar itu hadir ditengah-tengah kaum muslimin. Dan tentunya hadits-hadits ini membantah bahwa lailatul Qadar itu ditandai dengan datangnya sesorang yang berbaju putih bersih wangi dll. Jadi tidak ada itu yang namanya lailatul qadar datang dengan menyamar sebagai seseorang yang tua berbaju putih dll. Sungguh wahai saudaraku ! Jangan pernah melakukan pembenaran dan percaya akan cerita seperti ini. Adapun dugaan atau persepsi seperti ini adalah suatu perkara yang salah lagi bathil ! Wallahu a’lam……..

Seputar Ramadhan "Hal-hal yang harus ditinggalkan orang yang berpuasa"

Alhamdulillah…

Ana lanjutkan postingan Seputar Ramadhan dengan meneladani Saum Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam, yang Insya Allah pada postingan kali ini akan berisikan mengenai hal-hal yang harus ditinggalkan oleh orang-orang yang menjalankan puasa. Seperti biasa maraji’ serta manfaat dari postingan ini ana ambilkan dari kitab Shifatu Shaumin Nabi fii Ramadhaan karya Syaikh Salim ‘Ied al Hilali Hafidzahullah dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali al-Halabi al-Atsari Hafidzahullah, semoga bermanfaat bagi ana dan bagi Ikhwa fillah sekalian.

Wahai saudaraku yang mencintai Sunnah, sebagaimana yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa yang namanya orang berpuasa adalah orang yang menahan seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan dosa, misalnya menjaga lidah dari berkata dusta, berbicara keji dan berkata licik, serta menahan perutnya dari minuman dan makanan, juga kemaluannya dari perbuatan keji. Jadi Kalau toh harus berbicara, maka orang yang berpuasa haruslah menyampaikan kata-kata yang serta tidak menodai puasanya. Dan kalau pun akhirnya harus berbuat sesuatu, maka orang yang berpuasa harus melakukan sesuatu yang tidak merusak puasanya. Sehingga dengan demikian, ungkapan yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang baik dan perbuatannya pun berwujud amal shalih.

Nah puasa yang seperti inilah yang disyariatkan. Yakni puasa yang tidak hanya sekedar menahan rasa lapar dan haus serta hawa nafsu, melainkan puasa yang membentengi diri dari perbuatan dosa dan menahan perut dari makanan dan minuman . Jadi, sebagaimana yang telah ana postingkan sebelumnya bahwa yang namanya makan dan minum dapat merusak puasa, begitu juga dengan perbuatan dosa, dimana perbuatan dosa, dapat memutuskan pahala, merusak buahnya, hingga akhirnya menempatkan pelakunya pada posisi yang sama dengan orang yang tidak berpuasa.

Adapun Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam sendiri, telah memerintahkan seorang muslim yang berpuasa untuk menghiasi diri dengan akhlak mulia serta menjauhi perbuatan keji dan kata-kata kotor, pembicaraan yang hina dan sesuatu yang tidak ada gunanya. Dan semua hal buruk tersebut, sekalipun seorang muslim diperintahkan untuk menjauhi dan menghindarinya setiap hari, sesungguhnya larangan itu lebih ditekankan pada saat menjalankan ibadah puasa wajib yakni puasa Ramadhan. Maka dari itu saudaraku se-Iman se-aqidah, diwajibkan bagi setiap muslim yang menjalankan ibadah puasa untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menodai puasanya, sehingga kita bisa memperoleh manfaat dengan puasa yang dijalankan dan tercapai pula ketakwaan, sebagaimana yang disebutkan Allah Azza Wa jalla di dalam firman-Nya di Surah Al-baqarah ayat 183 :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Dan tentunya, sebagaimana yang juga sudah kita ketahui bersama bahwa yang namanya puasa itu merupakan sarana penghubung untuk menuju ketakwaan, karena puasa bisa menahan diri kita dari berbagai macam kemaksiatan yang senantiasa menjadi incaran. Dan hal ini Ikhwa fillah didasarkan pada Sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam yang mana dinyatakan disana bahwa “Puasa itu adalah benteng pertahanan atau perisai, dan untuk lebih jelasnya antum dapat melihat hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al Bukhari dan Imam muslim (semoga Allah merahmatinya) yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud yang sangat popular atau hadits lain yang serupa seperti hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad (semoga Allah merahmatinya) dari sahabat Jabir Radhiyallahu Anhu dan juga dari ‘Utsman bin Abil ‘Ash Radhiyallahu Anhu.

Dan ada ungkapan yang bagus saudaraku, yang dapat membuat kita untuk selalu berhati-hati dan berjaga-jaga agar kita tidak terjebak kedalam kesalahan dan kejahatan. Dimana ungkapan tersebut isinya :

“Aku mengetahui kejahatan bukan untuk berbuat jahat, tetapi untuk menghindarinya. Dan orang yang tidak mengetahui kebaikan dari kejahatan, niscaya dia akan terjerumus di dalamnya.”

Untuk itu kita perlu mengetahui hal-hal yang jelek yang dapat merusak ibadah puasa kita.

Nah salah satu dari yang harus kita ketahui serta ditinggalkan oleh orang-orang yang menjalankan puasa yakni Qauluz Zuur atau berkata-kata palsu alias dusta

Al -Imam al Bukhari Rahimahumullah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia bercerita, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :


مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ


وَالْعَمَلِ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ عَزَّوَجَلَّ


حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.


“Barangsiapa yang tidak meninggalkan Qauluz Zuur (kata-kata palsu) dan mengamalkannya, maka Allah Azza Wa jalla tidak memerlukan orang itu untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).

Adapun perbuatan atau hal lain yang juga harus ditinggalkan orang-orang yang menjalankan puasa selain Qauluz Zuur yakni Pembicaraan yang tidak bermanfaat dan kata-kata Kotor.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : Puasa itu bukan (hanya) dari makan dan minum, tetapi puasa itu dari kata-kata tidak bermanfaat dan kata-kata kotor. Oleh karena itu, jika ada orang yang mencacimu atau membodohimu, maka katakanlah kepadanya : “Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim dengan sanad shohih.

Oleh karena itu lah wahai saudaraku yang mencintai Sunnah, muncul ancaman keras dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bagi orang – orang yang melakukan keburukan-keburukan tersebut, dimana beliau (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam) adalah orang yang jujur yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Dimana di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, ad-Darimi, Ahmad dan al-Baihaqi (semoga Allah merahmati mereka semua) dari beberapa jalan, dari Sa’id al-Maqbari, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, beliau (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam) :


رُبَّ صَاأِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَا مِهِ الجُوْعُ وَالْعَطَشُ


“Berapa banyak orang yang berpuasa yang hanya mendapatkan rasa haus dan lapar dari puasanya .” Hadits ini sanadnya shahih. Wallahu ‘Alam

Jadi saudaraku munculnya ancaman –ancaman melalui lisan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dikarenakan banyak orang yang melakukan puasa tidak memahami hakikat puasa yang sebenarnya sebagimana yang telah diperintahkan Allah Azza Wa jalla. Sehingga Allah Azza Wa jalla membalas hal tersebut dengan mengharamkannya dari pahala dan ganjaran.

Untuk itulah saudaraku. Bagi seorang hamba yang taat dan memahami Al-Qur’an dan as-Sunnah tidak akan pernah ragu dalam bertindak karna batasan yang disyariatkan telah jelas dan Allah Azza Wa jalla sesungguhnya menghendaki kemudahan bagi hamba-hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan sama sekali untuk umat-Nya.

Minggu, 30 Agustus 2009

Seputar Ramadhan "Bid'ahnya Imsak & Kerancuan Muadzin"

Assalamualaikum Warahmatullah…

Adakah Imsak di dalam Islam ?.

Lantas bagaimana dengan kata yang biasa kita dengar yakni waktu Imsak , sehingga sebagian dari kita menghentikan makan , minum dan bercampur antara suami istri sebelum adzan Subuh?

Untuk itu, mari kita simak hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Jarir, al-Hakim, al-Baihaqi, dan Ahmad melalui jalan Hammad, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dimana Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda


إِدَا سَمِعَ أَحَدُ كُمُ النِّدَاءَ وَاْلإِ نَاءُ فِي يَدِهِ


فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ.


“Jika salah seorang diantara kalian mendengar suara adzan sedang bejana masih di tangannya (sedang meneguk air minum), maka janganlah dia meletakkannya sehingga keperluannya pada bejana itu terpenuhi.”

Dan menurut Syaikh Salim ‘Ied al Hilalli, yang dimaksud an-nida’ di hadits tadi adalah adzan Shubuh kedua yakni saat fajar Shadiq telah tiba berdasarkan pada tambahan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Jarir ath Thabari (pada zaman Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam Ikhwa fillah, adzan shubuh dikumandangkan dua kali Ikhwa fillah, adzan pertama saat fajar Khadzib sedangkan adzan kedua saat fajar Shadiq dimana sholat Shubuh boleh ditegakkan). Dan makna tersebut, diperkuat oleh apa yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Radhiyallahu Anhu, (dimana) dia bercerita : “Ketika adzan dikumandangkan , sedang bejana masih ditangan ‘Umar. Dia (Umar) bertanya, ‘Apakah aku boleh meminumnya wahai Rasulullah?’ Beliau (Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam) menjawab : ‘Boleh.’ Maka ‘Umar pun meminumnya.” Hadits ini diriwayatkan Ibnu Jarir.

Dengan demikian , jelas sudah Ikhwa fillah bahwa pengadaan waktu Imsak serta pengharaman makan, minum dan bercampur pada waktu imsak terbantahkan oleh hadits tadi.

Dan kita janganlah menjadi bagian dari orang-orang yang memutarbalikkan sunnah dimana telah jelas bahwa yang sunnah adalah Menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur . Dan hanya kepada Allah sepatutnya kita mengadu.

Wahai saudaraku yang mencintai Sunnah, Jika malam telah datang dari arah timur dan siang telah pergi dari arah barat serta matahari pun telah terbenam maka, dipersilahkan bagi orang yang berpuasa untuk berbuka, hal ini disandarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim,l dari ‘Umar Radhiyallahu Anhu, dia bercerita, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “Jika malam telah datang dari arah sini dan siang telah berlalu dari arah sini serta matahari pun telah terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka.” Tentunya hal ini berlangsung tepat setelah bulatan matahari terbenam, sekalipun sinarnya masih tampak. Salah satu petunjuk Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam jika beliau tengah berpuasa, di mana beliau memerintahkan seseorang untuk memantau (melihat) sesuatu (yakni Matahari), dan jika (ada yang) mengatakan , “Matahari telah terbenam,” maka beliau pun langsung berbuka.

Nah sebagian orang dizaman kita ini, ada yang mengira bahwa malam itu tidak terealisasi langsung setelah matahari terbenam, tetapi masuk setelah tersebarnya kegelapan, baik dibagian timur maupun barat. Dan sungguh hal tersebut telah terjadi pada sebagian Sahabat Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, namun kemudian beliau (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam) memberikan pemahaman bahwa waktu malam itu cukup pada permulaan gelap dari arah timur, langsung setelah bulatan matahari terbenam.

Jadi telah jelas bahwa hukum-hukum puasa yang diterangkan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam semuanya berkaitan dengan penglihatan mata telanjang. Dan bukan rahasia lagi bahwa ibadah saum atau puasa yang kita jalani sangat berkaitan erat dengan matahari dan fajar. Maka jika ada yang meyalahi hal ini, berarti mereka telah melakukan kesalahan. Di sebagian Negara, kita dapati sebagian orang berbuka dengan berdasarkan pada matahari dan melakukan sahur berdasarkan fajar. Artinya jika matahari telah terbenam, maka mereka akan berbuka dan jika fajar shadiq telah terbit maka mereka menghentikan diri dari makan , minum dan bercampur. Tentunya amalan yang seperti inilah yang benar yang sesuai dengan syari’at. Namun di banyak tempat kita dapati para muadzin menggunakan bantuan penanggalan yang telah berlalu lebih dari 50 tahun, sehingga banyak orang mengakhirkan waktu berbuka dan menyegerakan waktu sahur, yang mengakibatkan adanya pertentangan dengan petunjuk Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa adzan merupakan sarana pemberitahuan masuknya waktu shalat. Lantas ketika ada muadzin mengumandangkan adzan maghrib saat malam telah datang serta mengumandangkan adzan shubuh ketika fajar Kadzib, padahal menurut Sunnah, saat Magrib yakni dimana matahari telah terbenam (belum datangnya malam) dan pada saat shubuh pada saat fajar shadiq telah muncul, artinya sang muadzin mengumandangkan adzan lebih cepat atau lebih awal dari waktunya, maka yang berlaku tetap pada hukum pokoknya yakni berbuka dan sahur sesuai dengan matahari dan fajar yang telah disunnahkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasalam. Demikianlah yang dijelaskan Syaikh Salim ‘Ied al Hilalai dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali di dalam Kitabnya Shifatu Shaumin Nabi fii Ramadhaan.

Maka peliharalah dan pikirkanlah Ikhwa fillah !

Tentunya hal ini sangatlah krusial, sangatlah penting saudaraku, artinya penting dan tidak dapat disepelekan karna di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “Agama ini masih tetap jaya selama umat manusia menyegerakan buka puasa karena orang-orang Yahudi dan nasrani biasa mengakhirkannya. Kemudian dihadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :


فَضْلٌ مَا بَيْنَ صِيَا مِنَا وَ صِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ


أَكْلَةُ السَّحَرِ.


“Perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab terletak pada makan sahur

Jadi jelaslah sudah bahwa pengadaan istilah imsak dari makan sebelum terbit fajar shadiq dengan alasan bersiap-siap diri menjelang adzan atau apapun alasannya adalah bid’ah yang diada-adakan. Wallahu a’lam

Seputar Ramadhan "Waktu Fajar"

Assalamualaikum…

Alhamdulillah , Ikhwa fillah Rahimahi Warahimakumullah… Semoga Allah Azza Wa jalla menerima amal ibadah kita di bulan ramadhan ini, … amin ya rabbal alamin.

Toyib ! Tahukah ikhwa fillah mengenai fajar. Insya Allah kata fajar telah terbiasa kita dengar. Namun bagaimana makna fajar dan cirri-ciri fajar menurut islam, yang sangat erat kaitannya dengan ibadah di Bulan ramadhan. Untuk itulah ana postingkan mengenai Fajar ini yang maraji’ serta manfaatnya ana ambil dari kitab Shifatu Shaumin Nabi fii Ramadhaan karya Syaikh Salim ‘Ied al Hilali Hafidzahullah dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali al-Halabi al-Atsari Hafidzahullah, semoga bermanfaat bagi ana dan bagi Ikhwa fillah sekalian. Ikhwa Fillah yang dirahmati Allah, setelah ayat ke 187 dari Surah Al-Baqarah


وَكُلُواوَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْظُ اْلأَبْيَضُ


مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ.


diturunkan, para Sahabat Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam sengaja mengambil tali hitam dan tali putih (yakni tali yang biasa dipakai untuk mengikat unta atau yang lebih dikenal dengan al-Mishbaah), dan mereka meletakkannya di bawah bantal mereka, bahkan salah seorang dari mereka (sahabat Radhiyallahu Anhu) mengikatkannya di kakinya, dan dia masih tetap bebas makan dan minum sehingga terlihat jelas olehnya kedua tali tersebut. Hal ini sebagaimana hadits dari Sahabat ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu Anhu, dimana ia bercerita : Ketika turun ayat “Hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam yaitu fajar.” Aku mengambil tali hitam dan juga tali putih, lalu meletakkannya di bawah bantalku, kemudian aku melihatnya (maksudnya melihat tali hitam dan putih tersebut) pada malam hari dan keduanya tidak tampak olehku. Selanjutnya aku berangkat menemui Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan menceritakan kejadian itu, maka beliau (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam) bersabda : “Yang dimaksudkan adalah hitamnya malam dan putihnya siang.” Hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Begitu juga dengan Sahabat Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu Anhu. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim (semoga Allah merahmatinya), Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu Anhu, bercerita, “Ketika ayat ini turun “Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar,’ dia bercerita : “Jika ada seseorang yang hendak berpuasa maka salah seorang di antara mereka mengikatkan tali pada kedua kakinya, benang putih dan benang hitam. Dan dia masih bebas makan dan minum sampai tampak jelas olehnya kedua benang tersebut. Dan setelah itu, turunlah ayat : Yaitu Fajar.” Kemudian mereka mengetahui bahwa yang dimaksud adalah malam dan siang.

Dan Setelah adanya penjelasan al-Qur’an, keterangan Rabbani , Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam berusaha menjelaskan batasan perbedaan hitam dan putih tersebut kepada para Sahabat Radhiyallahu Anhu, sehingga tidak meninggalkan ruang keraguan dan ketidaktahuan. Maka diantara hukum-hukum yang dijelaskan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam secara rinci yakni tentang FAJAR, dimana yang namanya fajar dibagi menjadi dua yakni :

FAJAR KADZIB : yakni fajar dimana shalat Shubuh TIDAK SAH untuk dilakukan dan tidak pula DIHARAMKAN bagi orang yang akan berpuasa untuk makan danminum pada waktu itu. Sedangkan yang kedua yakni

FAJAR SHADIQ : yakni saat dimana orang yang berpuasa DIHARAMKAN untuk makan dan minum dan DIHALALKAN untuk mengerjakan Sholat Shubuh.

Hal ini disandarkan kepada hadits Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, ad-Daruquthni, dan al-Baihaqi (semoga Allah Azza Wa jalla merahmati mereka), melalui jalan Sufyan dari Ibnu Juraij dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, dimana Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bercerita , Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “Fajar ituada dua, Adapun fajar yang pertama,makanan tidak diharamkan dan tidak diperbolehkan mengerjakan shalat . Sedangkan fajar yang kedua, makanan diharamkan dan dibolehkan mengerjakan shalat shubuh.

Dan sungguh saudaraku, perbedaan kedua fajar ini sangatlah jelas, dimana yang namanya Fajar Khadzib berwarna putih panjang yang menjulur ke atas seperti ekor srigala. Sedangkan fajar Shadiq berwarna merah yang naik dan muncul dari puncak gunung dan yang tersebar di muka bumi.

Adapun di dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (semoga Allah merahmatinya), sahabat Samurah Radhiyallahu Anhu bercerita, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “janganlah kalian tertipu oleh Adzan bilal dan warna putih ini untuk waktu Shubuh sehingga naik.”

Selain itu saudaraku, dari ‘Thalq bin ‘Ali bahwa Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “ Makan dan minumlah serta janganlah kalian tertipu oleh pancaran putih yang naik. Makan dan minumlah sehingga tampak oleh kalian warna merah.”

Jadi saudaraku yang mencintai Sunnah, diketahui bahwa sifat-sifat Fajar Shadiq adalah yang sesuai dengan ayat yang mulia ini yakni : “Sehingga terang begimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar.” Jika cahaya fajar telah tampak di ufuk dan puncak gunung, sehingga terlihat seakan-akan ia sebagai benang putih , lalu tampak pula dibagian atasnya benang warna hitam, yaitu sisa-sisa malam yang akan segera beranjak pergi. Maka jika hal tersebut telah benar-benar tampak, maka berhentilah dari makan dan minum serta bercampur. Dan jika di tangan Antum masih memegang gelas berisi air atau minuman, maka minumlah dengan tenang dan nikmat, karena hal itu sebagai keringanan yang sangat berharga dari Allah Azza Wa jalla, Rabb yang maha penyayang kepada hamba-hamban-Nya yang mengajarkan puasa sekalipun kita telah mendengar adzan. Al-Imam Abu Dawud, Ibnu Jarir, al-Hakim, al-Baihaqi, dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits melalui jalan Hammad, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dimana Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :


إِدَا سَمِعَ أَحَدُ كُمُ النِّدَاءَ وَاْلإِ نَاءُ فِي يَدِهِ


فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ.


“Jika salah seorang diantara kalian mendengar suara adzan sedang bejana masih di tangannya (sedang meneguk air minum), maka janganlah dia meletakkannya sehingga keperluannya pada bejana itu terpenuhi.”

Dan menurut Syaikh Salim ‘Ied al Hilalli, yang dimaksud an-nida’ di hadits tadi adalah adzan Shubuh kedua saat fajar Shadiq telah tiba berdasarkan pada tambahan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Jarir ath Thabari (dan pada zaman Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam, adzan shubuh dikumandangkan dua kali, adzan pertama saat fajar Khadzib sedangkan adzan kedua saat fajar Shadiq dimana sholat Shubuh boleh ditegakkan). Selain itu saudaraku, makna tersebut diperkuat oleh apa yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Radhiyallahu Anhu, dia bercerita : “Ketika adzan dikumandangkan , sedang bejana masih ditangan ‘Umar. Dia bertanya, ‘Apakah aku boleh meminumnya wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab : ‘Boleh.’ Maka ‘Umar pun meminumnya.” Hadits ini diriwayatkan Ibnu Jarir.

Dengan demikian , jelas sudah wahai saudaraku yang mencintai Sunnah, bahwa pengadaan waktu Imsak serta pengharaman makan, minum dan bercampur pada waktu imsak terbantahkan oleh hadits ini. Wallahu A’lam.

Do'a Berbuka Puasa

Assalamu ‘alaikum warahmatullah

Wahai saudaraku yang benci kemusyrikan dan benci bid’ah. Sebaik-baik do’a adalah do’a yang diwariskan dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam.

al-Imam Abu Daud, al-baihaqi, al-hakim, Ibnus Sunni, dan an-Nasa’i di dalam kitab Amalul Yaum wal lailah serta ad Daraquthni meriwayatkan sebuah hadits, Dimana pada saat berbuka puasa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam membaca do’a

ذَهَبَ ا لظَّمَا ءُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ,

وَثَبَتَ اْلأَ جْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.


Muqaddimah Ramadhan

Bismillah….

Wahai Saudaraku yang benci kemusyrikan… Alhamdulillah kita telah berada di Bulan Ramadhan. Dan tentunya, kita selaku seorang muslim , sudah sepatutnyalah siap dalam menyambut dan menjalankan ibadah-ibadah yang diwajibkan serta disunahkan di dalam bulan Ramadhan ini. Dimana ketika kita menjalankan ibadah-ibadah yang diwajibkan dan disunnahkan di Bulan Ramadhan, kita sudah sepatutnya mengetahui hukum-hukumnya, mengetahui sunnah-sunnahnya, serta mengetahui kaifiyah ibadah yang akan kita kerjakan, selain itu perbuatan apa saja yang harus kita tinggalkan dan jauhi serta mana yang harus kita kerjakan. Dan tentunya kita beribadah berlandaskan dalil-dalil atau nash-nash yang syar’i yang kita jadikan landasan atau pijakan dalam beribadah. Agar ibadah kita bisa ittiba kepada Rasululah Shalallahu ‘Alaihi wasallam.

Nah seperti biasanya setiap menyambut Ramadhan, selalu banyak acara digelar kaum muslimin. Bahkan diantara acara tersebut ada yang telah menjadi tradisi yang “wajib” dilakukan meski syariat Islam tidak pernah memerintahkan untuk membuat berbagai acara tersebut. Dan tentunya telah kita ketahui bersama bahwa Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yang ditetapkan syariat yang ditujukan dalam rangka taqarrub , dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Di bulan Ramadhan ini wahai saudaraku, banyak terdapat keutamaan-keutamaan. Diantaranya nih bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an. Hal ini sebagaimana firman Allah di Surah Al-Baqarah ayat 185 (yang artinya) : “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).”
selain itu saudaraku yang benci kemusyrikan, pada bulan Ramadhan para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Hal ini tentunya berdasarkan apa yang disampaikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam, didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim (semoga Allah merahmati mereka), Dimana Rasulullah Shalallahu ’Alaihi wa sallam bersabda: “Bila datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah para setan.”

Selain itu tak asing lagi ditelinga kita dengan apa yang sering disebut Lailatul Qadar.

Yap ! Malam Lailatul Qadar hanya ada, atau hanya terdapat di Bulan Ramadhan, sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla jelaskan di Surah Al-Qadar ayat 1 sampai 5 yang artinya “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.”

Tentunya keutamaan Bulan Ramadhan tidak hanya itu saja, masih banyak lagi, diantaranya nih bahwa Bulan Ramadhan adalah Bulan Penghapus Dosa. Hal ini berdasar hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shohiihnya, dari Sahabat Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam bersabda, “Shalat lima waktu, dari Jum’at (yang satu) menuju Jum’at berikutnya, (dari) Ramadhan hingga Ramadhan (berikutnya) adalah penghapus dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar.”

Selanjutnya di hadits yang lain, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, juga dari Sahabat Abu Hurairah radiyallahu 'anhu Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.”

Dan Ingatlah Wahai sauadaraku !! Puasa merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekali lagi Ingatlah ! Bahwa Puasa merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shohiihnya, dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah ta’ala berkata: ‘Kecuali puasa, maka Aku yang akan membalas orang yang menjalankannya karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsunya dan makannya karena Aku’.” Hadits ini dengan jelas menunjukkan betapa tingginya nilai puasa. Dimana Allah Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahalanya bukan sekedar 10 atau 700 kali lipat, namun akan dibalas sesuai dengan keinginan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal kita tahu dan haruslah kita yakini, bahwa Allah Azza wa Jalla Maha Pemurah, dan tentu Allah Azza wa Jalla akan membalas pahala orang yang berpuasa dengan berlipat ganda.

Wahai saudaraku yang benci kemusyrikan. Tentunya Hikmah yang dapat ditarik dari kenapa Allah Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa bukan sekedar 10 atau 700 kali lipat, namun akan dibalas sesuai dengan keinginan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua ini karna sebagaimana tersebut dalam hadits, bahwa orang yang berpuasa telah meninggalkan keinginan hawa nafsu dan makannya, karena Allah Ta'ala. Dimana tidaklah nampak dalam dzahirnya (orang yang berpuasa) dia sedang melakukan suatu amalan ibadah, padahal sesungguhnya dia sedang menjalankan ibadah yang sangat dicintai Allah Azza wa Jalla dengan menahan lapar dan dahaga. Sementara di sekitarnya ada bahkan banyak makanan dan minuman yang menggiurkan dan menarik selera.
Di samping itu saudaraku, Orang yang berpuasa juga menjaga hawa nafsunya dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Semua itu tentunya dilakukan hanya karena mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala dengan meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala gerak-geriknya. Dan di antara hikmah lainnya, yakni karena orang yang berpuasa sedang mengumpulkan seluruh jenis kesabaran di dalam amalannya. Yaitu sabar dalam taat kepada Allah Ta'ala, seperti sabar dalam menjauhi larangan, dan sabar di dalam menghadapi ketentuan taqdir Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 10 (yang artinya) : “Sesungguhnya akan dipenuhi bagi orang-orang yang sabar pahala mereka berlipat ganda tanpa perhitungan.”

Toyib saudaraku. Dalam hal ini ada hal-hal yang perlu digaris bawahi, cetak miring dan garis tebal alias penting untuk kita tanamkan di dalam hati-hati kita, yakni bahwa puasa bukanlah sekedar menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lainnya yang membatalkan puasa. Tetapi orang yang berpuasa harus pula menjaga lisan dan anggota badan lainnya dari segala hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Namun bukan berarti ketika tidak sedang berpuasa lantas kita boleh melakukan hal-hal yang diharamkan tersebut. Maksudnya nih, bahwa perbuatan maksiat itu lebih berat ancamannya bila dilakukan pada bulan yang mulia ini, dan ketika menjalankan ibadah yang sangat dicintai Allah Ta'ala. Dan tentunya bisa saja seseorang yang berpuasa itu tidak mendapatkan faidah apa-apa dari puasanya kecuali hanya merasakan haus dan lapar, karna ia tak menjaga lisan dan anggota badan lainnya dari hal-hal yang diharamkan. Na’udzubillahi min dzalik.
Untuk itu saudaraku, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang berpuasa agar mendapatkan balasan dan keutamaan-keutamaan yang telah Allah Azza wa Jalla janjikan.

Nah hal-hal tersebut nih saudaraku, diantaranya Setiap muslim harus membangun ibadah puasanya di atas iman kepada Allah Ta’ala, berpuasa dalam rangka mengharapkan ridha-Nya, bukan karena ingin dipuji atau sekedar ikut-ikutan keluarga atau ikut-ikutan lingkungannya yang lagi berpuasa. Mari kita simak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh Muttafaqun ’Alaih “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta'ala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Selanjutnya, hal lainnya yang sangat patut alias sangat penting untuk diperhatikan yakni Kita selaku orang yang berpuasa haruslah menjaga anggota badan kita dari hal-hal yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti menjaga lisan kita dari dusta, menjaga lisan dari ghibah, dan banyak lagi lainnya. Begitu pula kita harus menjaga mata kita dari melihat orang lain yang bukan mahram kita baik secara langsung atau tidak langsung seperti melalui gambar-gambar atau film-film dan sebagainya. Juga menjaga pandangan dari wanita-wanita yang mengumbar aurat dijalan-jalan atau dipasar-pasar, kemudian kita juga menjaga telinga kita, tangan, kaki dan anggota badan lainnya dari bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla. Hal ini Saudaraku, telah diperingatkan Rasulullah Shalallahu ’Alaihi wasallam di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Al-Bukhari (semoga Allah merahmatinya), dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah Ta’ala tidak peduli dia meninggalkan makan dan minumnya.”

Maka sudah semestinya lah, bagi orang yang berpuasa untuk tidak mendatangi pasar, supermarket, mall, atau tempat-tempat keramaian lainnya kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Jadi tidak benar anggapan ”Puasa-puasa gini enaknya ke Mall cuci mata.”Dibulan Ramadhan jalan-jalan ke Mall atau kepasar dengan alasan cuci mata ?! Naudzubillahi mindzalik ! Padahal di Mall dan dipasar-pasar banyak orang-orang yang mengumbar aurat serta maksiat. Jadi kita keMall atau kepasar jika ada keperluan yang memang menjadi kebutuhan pokok kita saja . bukan sekedar jalan-jalan atau bermain-main memuaskan syahwat. Dan berhati-hatilah, biasanya tempat-tempat tersebut bisa menyeret kita untuk mendengarkan dan melihat perkara-perkara yang diharamkan Allah Ta'ala. Begitu pula kita perlu mulai menjauhi televisi karena tidak bisa dipungkiri lagi bahwa efek negatifnya sangat besar baik bagi orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa. Selanjutnya, kita selaku orang yang berpuasa haruslah Bersabar, bersabar untuk menahan diri dan tidak membalas kejelekan yang ditujukan kepada kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Abu Hurairah radiyallahu 'anhu:
“Puasa adalah tameng, maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah dia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat suara. Jika dia dicela dan disakiti maka katakanlah saya sedang berpuasa.”

Dan sesungguhnya saudaraku, puasa itu akan melatih dan mendorong seorang muslim untuk berakhlak mulia serta melatih dirinya menjadi sosok yang terbiasa menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun untuk mendapatkan hasil yang demikian tentunya tidak akan didapat kecuali dengan menjaga puasa kita dari beberapa hal yang telah ana sebutkan tadi.
Jadi Puasa itu saudaraku, ibarat sebuah baju. Bila orang yang memakai baju itu menjaganya dari kotoran atau sesuatu yang merusaknya, tentu baju tersebut akan menutupi auratnya, menjaganya dari terik matahari dan udara yang dingin serta memperindah penampilannya. Demikian pula puasa, orang yang mengamalkannya tidak akan mendapatkan buah serta faidahnya kecuali dengan menjaga diri dari hal-hal yang bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan pahalanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Rabu, 19 Agustus 2009

Antara Kata dan Perbuatan (Bagian Tiga)

Assalamualaikum Warahmatullah...
Ikhwa Fillah Rahimani wa Rahimakumullah, segala puji bagi Allah Azza wajalla, kepada-Nya kita memeberikan sanjungan , memohon pertolongan dan ampunan. Kepada-Nya lah wahai saudaraku kita senantiasa berlindung dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan kita. Dan semoga Allah Azza Wa jalla menyatukan kita semua untuk senantiasa mencintai-Nya dan mengikuti Sunnah Rasul-Nya.
Alhamdulillah akhirnya postingan mengenai ”Perkataan berbeda dengan perbuatan’ dapat ana lanjutkan. Semoga bermanfaat...
Toyib ! di dalam Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlih - Jundub bin Abdillah Al-Bajali mengatakan, “Gambaran yang tepat untuk orang yang menasihati orang lain namun melupakan dirinya sendiri adalah laksana lilin yang membakar dirinya sendiri untuk menerangi sekelilingnya.”
Bahkan sebagian ulama memvonis gila orang yang pandai berkata namun tidak mempraktekkannya karena Allah berfirman,
أَفَلاَ تَعْقِلُونَ
“Tidakkah mereka berakal?”
Dan di dalam Tafsir al-Qurthubi, Manshur al-fakih membuat syair mengenai orang-orang yang perkataannnya tidak sesuai dengan perbuatannya, dimana ia bersyair “Sungguh ada orang yang menyuruh kami untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka lakukan, sungguh orang-orang gila. Dan sungguh mereka tidaklah berterus terang.”
Kemudian akan ana kutipkan disini beberapa perkataan salafus shalih berkaitan dengan masalah ”Perkataan berbeda dengan perbuatan”, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlih : ”Siapa saja yang Allah halangi untuk mendapatkan ilmu maka Allah akan menyiksanya karena kebodohannya. Orang yang lebih keras siksaannya adalah orang yang ilmu itu datang kepadanya tapi dia berpaling meninggalkan ilmu. Demikian pula orang yang Allah berikan kepadanya ilmu tapi tidak diamalkan.
Selanjutnya Ubay bin Ka’ab mengatakan, “Pelajarilah ilmu agama dan amalkanlah dan janganlah kalian belajar untuk mencari decak kagum orang. Jika kalian berumur panjang, segera akan muncul satu masa, di masa tersebut orang mencari decak kagum orang lain dengan ilmu yang dia miliki sebagaimana mencari decak kagum dengan pakaian yang dikenakan.
Bahkan Saudaraku, Sahabat Abdullah ibnu Mas’ud Radiyallahu Anhu berkata, “semua orang itu pintar ngomong. Oleh karenanya siapa yang perbuatannya sejalan dengan ucapannya itulah orang yang dikagumi. Akan tetapi bila lain ucapan lain perbuatan itulah orang yang mencela dirinya sendiri.
Jadi saudaraku sekalian, orang yang berbicara namun tidak sesuai dengan perbuatannya.. maka menurut ibnu Mas’ud , orang tersebut sesungguhnya telah mencela dirinya sendiri , telah menghinakan dirinya sendiri. Dan sungguh , yang namanya ”Perkataan berbeda dengan perbuatan”, sudah sepatutnyalah kita tinggalkan dan jauhi...
Dan mari Saudaraku yang selalu berharap sebaik-baik tempat kembali, kita perhatikan dan kita simak baik-baik apa yang disampaikan oleh Al-Hasan Bashri Rahimahullahu Ta'ala Anhu, dimana beliau mengatakan, “Nilailah orang dengan amal perbuatannya jangan dengan ucapannya. Sesungguhnya semua ucapan itu pasti ada buktinya. Berupa amal yang membenarkan ucapan tersebut atau mendustakannya. Jika engkau mendengar ucapan yang bagus maka jangan tergesa-gesa menilai orang yang mengucapkannya sebagai orang yang bagus. Jika ternyata ucapannya itu sejalan dengan perbuatannya itulah sebaik-baik manusia.”
Bahkan Abu Darda mengatakan, “Sebuah kecelakaan bagi orang yang tidak tahu sehingga tidak beramal. Sebaliknya ada 70 kecelakaan untuk orang yang tahu namun tidak beramal.”

Minggu, 17 Mei 2009

Antara Kata dan perbuatan (Bagian 2)

Assalamualaikum....
Kembali ana postingkan lanjutan dari postingan sebelumnya yakni ”Perkataan berbeda dengan perbuatan’ semoga postingan ini dapat menjadi nasehat dan pelajaran bagi ana dan keluarga serta saudaraku sekalian yang selalu mengharapkan ridho Allah dan sebaik-baik tempat kembali yakni Jannah.

Wahai saudaraku se-Iman se-Aqidah...
Ada sebuah hadits yang tampaknya ter-khusus untuk para penceramah, dai dan mubaligh atau siapa sajalah yang mengaku juru dakwah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, Abu Nu’aim dan Abu Ya’la. (semoga allah merahmati mereka). Dan Menurut al-Haitsami salah satu sanad dalam riwayat Abu Ya’la para perawinya adalah para perawi yang digunakan dalam kitab shahih.
Dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Saat malam Isra’ Mi’raj aku (maksudnya Rasulullah) melintasi sekelompok orang yang bibirnya digunting dengan gunting dari api neraka.” Ssiapakah mereka ?”, tanyaku (Tanya Rasulullah) kepada Jibril. (Kemudian) Jibril (Alaihis Sallam) mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang dulunya menjadi penceramah ketika di dunia. Mereka sering memerintahkan orang lain melakukan kebaikan tapi mereka lupakan diri mereka sendiri, padahal mereka membaca firman-firman Allah, tidakkah mereka berpikir?”

Dari hadits ini Saudaraku Rasulullah Shalallahu ’Alaihi wa sallam melakukan pengingkaran keras terhadap orang yang punya ilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya. Dimana ”perkataannya tidak sesuai dengan perbuatannya”. Dan inilah salah satu sifat orang-orang Yahudi yang dicap sebagai orang-orang yang mendapatkan murka Allah disebabkan mereka berilmu namun tidak beramal. Oleh karena itulah saudaraku, yang selalu mengharapkan Ridho Allah Azza wa jalla, di dalam Al-Mughni - Ibnu Qudamah mengatakan, “Ketika berkhutbah seorang khatib dianjurkan untuk turut meresapi apa yang dia nasihatkan kepada banyak orang.”
Untuk itu... mari kita Instropeksi diri..
Mari kita Muhasabah diri kita....,
”Apakah perkataan kita telah sesuai dengan perbuatan kita ?

Di dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhu mengatakan, “Duhai orang-orang yang memiliki ilmu ... amalkanlah ilmu kalian. Orang yang berilmu secara hakiki hanyalah orang yang mengamalkan ilmu yang dia miliki sehingga amalnya selaras dengan ilmunya. Suatu saat nanti akan muncul banyak orang yang memiliki ilmu namun ilmu tersebut tidaklah melebihi kerongkongannya sampai-sampai ada seorang yang marah terhadap muridnya karena ngaji kepada guru yang lain.”
Dan masih ana kutipkan dari perkataan para sahabat Ridwanallahu 'Alaihim Ajemain, dimana mereka adalah sebaik-baik ummat dan sebaik-baik generasi- yang layak kita jadikan contoh dan teladan selain tentunya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Dari Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu di dalam Jami’ bayan Al-Ilmi wa Fadhlih, (ia) mengatakan, “Tanda kebodohan itu ada tiga; pertama mengagumi diri sendiri, kedua banyak bicara dalam hal yang tidak manfaat, ketiga melarang sesuatu namun melanggarnya.”


Selasa, 12 Mei 2009

Antara Kata dan Perbuatan

Assalamualaikum Warahmatullah...

Alhamdulillah... segala puji memang hanya untuk Allah Azza wa Jalla semata... sungguh saudaraku yang selalau mengharapkan Ridho Allah, terlalu banyak nikmat yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada kita, yang tak akan mampu kita mengukurnya... Maka dari itu janganlah kita lupa untuk selalu bersyukur atas apa yang menjadi ketetapan Allah Azza wa Jalla kepada kita, dan kita haruslah Ridho, karna selaku seorang Muslim sejati kita haruslah selalu ridho terhadap apa saja yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala ridho, dan kita harus senantiasa marah atas apa-apa yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala marah. Selain itu saudaraku, sebagai seorang Muslim sejati kita juga harus mencintai apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, serta akan murka terhadap apa yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tentunya kita juga harus berloyalitas kepada wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menentang musuh-musuh-Nya. Sungguh saudaraku inilah potret Muslim Sejati, yang telah menyempurnakan imannya, sebagaimana di dalam hadits:


مَنْ أَحَبَّ لِلهِ وَأَبْغَضَ لِلهِ وَأَعْطَى لِلهِ وَمَنَعَ لِلهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانَ

“Barangsiapa cinta karena Allah dan membenci karena Allah, memberi karena-Nya dan tidak memberi juga karena-Nya, maka dia telah menyempurnakan iman.”

Semoga Allah Azza Wajalla selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat, rizky yang baik dan amalan yang diterima. Sehingga kita dapat tegak diatas Sunnah Rasul-Nya hingga akhir hayat kita. Dan semoga Allah Azza wa Jalla selalu melimpahkan Rahmat-Nya pada kita semua. Amiin....

Wahai saudaraku... yang selalau mengharapkan sebaik-baik tempat kembali yakni Jannah. Sudah menjadi ciri seorang muslim bahwa ”yang namanya perkataan haruslah sesuai dengan perbuatan.” Jadi ada kecocokan antara kata dan perbuatan. Namun sekarang ini saudaraku, sebagian dari kita, Umat islam atau kalau boleh disebut banyak, yang mulai berprilaku mengikuti kaum Musyrikin dimana ”perkataannya tak sesuai atau perkataannya tak sejalan dengan apa yang diperbuatnya”. Maka tidak disangsikan lagi bahwa adanya perbedaan antara kata dan realita adalah salah satu hal yang sangat berbahaya. Bahkan hal ini merupakan salah satu sebab datangnya murka Allah. Sebagaimana Qur’an surat Shaff ayat 2 dan 3.

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُو لُو نَ مَالا تَفْعَلُو نَ. كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اَ للَّهِ أَن تَقُولُو اْ مَا لاَ تَفْعَلُو نَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Selain itu saudaraku..., Allah Subhanahu Wata'ala juga mencela perilaku Bani Israil dengan firman-Nya di Surah al-Baqarah ayat 44, dimana Bani israil ”Perkataannya tidak sesuai dengan perbuatannya.”

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”

Lantas, senada dengan nash ilahi tersebut, di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Imam Muslim (semoga Allah Subhanahu Wata'ala merahmati mereka) , Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam mengkhabarkan dan memperingatkan kita akan dampak dari ”perkataan berbeda dari perbuatan” kelak diakhirat nanti. Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Usamah Radiyallahu Anhu , Dimana ia (Usamah Radiyallahu Anhu), mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan didatangkan seorang pada hari kiamat, lalu dicampakkan ke dalam neraka. Di dalam neraka, orang tersebut berputar-putar sebagaimana keledai berputar mengelilingi mesin penumbuk gandum. Banyak penduduk neraka yang mengelilingi orang tersebut lalu berkata, ‘Wahai Fulan, bukankah engkau dahulu sering memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Orang tersebut menjawab, ‘Sungguh dulu aku sering memerintahkan kebaikan namun aku tidak melaksanakannya. Sebaliknya aku juga melarang kemungkaran tapi aku menerjangnya.’

Adakah sifat dan perilaku ini pada diri kita ?

Wahai saudaraku ... apakah kita juga berperilaku seperti itu ? dimana ”Perkataan tak sesuai atau tak sejalan dengan apa yang diperbuat”.

Marilah kita saling menasehati dengan kebenaran dan saling mensehati dengan kesabaran..

Semoga bermanfaat !

Kamis, 19 Maret 2009

Untuk mu Ahmad adz-Dzahabi

Untuk mu Ahmad adz-Dzahabi

Bismillahirrahmanirrahim...

Sungguh wahai Ibnu Ahmad…
Di dalam kisah tarbiyah Luqman al-Hakim kepada anaknya yang Allah Azza wa Jalla abadikan di dalam al-Qur’an banyak terdapat pelajaran dan sangat banyak faedahnya, mulai dari kewajiban yang paling wajib yakni tauhid dan larangan berbuat syirik, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, beribadah, berakhlak mulia dan bermuamalah hingga larangan berlaku sombong.
Maka sudah sepatutnyalah wahai Ibnu Ahmad. Wahai Ahmad adz-Dzahabi, kami berwasiat dengan wasiat ini.

Wahai anakku… Wahai Ibnu Ahmad
“janganlah engkau kelak mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzholiman yang besar.”

Wahai Ibnu Ahmad…Wahai Ahmad adz-Dzahabi
ingatlah apa yang diperintahkan Allah : “berbuat baiklah kepada dua orang ibu- bapakmu, ibumu telah mengandungmu dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, bersyukurlah kepada Allah dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada Allah lah kembalimu.”

Dan ingatlah wahai Ibnu Ahmad … Wahai Ahmad adz-Dzahabi
“jika keduanya (kedua orang tuamu ini) memaksamu untuk mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya (kedua orang tuamu ini) di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada Allah, dan hanya kepada Allah lah kembalimu.”

Wahai anakku.. wahai Ahmad adz-Dzahabi…
“ Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.”

Wahai anakku.. Wahai Ibnu Ahmad…
“Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

Dan ingatlah wahai anakku…camkanlah di dalam dadamu…
“Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Dan perhatikanlah wahai anakku…Wahai yang menyejukkan mata…
“Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.

Sungguh anakku…
“ Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang Dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.
dan Barangsiapa kafir Maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati.
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Ketika Nikmat itu Menghampiriku...

Asalamualaikum...

Segala Puji Bagi Allah yang telah memberikan begitu banyak nikmat kepada kita yang tak ternilai harganya.

Tak dinyana tak disangka akhirnya nikmat tersebut ana rasakan juga.

Sebagaimana apa yang ana kabarkan pada postingan sebelumnya bahwa ana akan bercerita mengenai suatu nikmat yang dahulu tak terbayangkan akan ana rasakan... dan kini nikmat itu ana rasakan. ya suatu nikmat yang kemudian terus membawa kenimatan-kenikmatan lainnya.

Wallahi saudaraku... Dahulu tak terpikirkan apakah nikmat tersebut akan ana rasakan. Tentunya atas kehendak dan izin Allah Azza wa Jalla ana melangsungkan akad nikah, ana melangsungkan pernikahan.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Sungguh sebuah nikmat yang amat besar atas turunnya syariat menikah ini. Hubungan pernikahan merupakan hubungan sesame kita, sesame manusia yang amat kuat.

Dari pernikahan ini wahai saudaraku akan terwujud barisan kaum muslimin yang kokoh, dan dari perkawinan ini jugalah tercipta cinta dan persahabatan.
Ketika menjadi suami banyak hal baru, banyak amaliah baru yang patut kita lakukan sebagai amal ibadah yang dahulu rasanya tak akan pernah dan tak patut kita lakukan. Dengan pernikahan Allah Azza wa Jalla halalkan apa yang haram. Dengan pernikahan seorang suami akan senantiasa berusaha memperbaiki dan memperbagus hubungan kekerabatan dengan keluarganya dan keluarga istrinya. Dengan pernikahan seorang suami memuliakan seorang istri, dengan pernikahan seorang suami menghormati seorang istri, bahkan dengan pernikahan seorang suami memerintahkan sang istri untuk selalu senantiasa beramal sholeh dan berbuat baik kepada keluarganya, terutama kedua orang tuanya. Dan dengan pernikahan sang suami menjadi Imam bagi keluarganya, menjadi murabbi bagi istri dan anak-anaknya. Ingatlah firman Allah “…Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka…”
Dan dengan pernikahan saudaraku… dan dengan pernikahan… dan tentunya masih banyak lagi yang dengannya kita akan merasakan nikmat yang banyak, yang sudah sepatutnyalah untuk kita syukuri.

Dan nikmat yang banyak ini apabila mampu kita syukuri maka akan turun padanya barokah dan sungguh saudaraku…jika barokah, maka Allah Azza wa Jalla akan tambahkan Rahmat-Nya kepada kita. Bukankah telah Allah Azza wa Jalla kabarkan kepada kita bahwa pada hakekatnya jika kita mau bersyukur maka manfaatnya akan kembali kepada kita.

Dan kini saudaraku…. Allah Azza wa Jalla tambah lagi nikmat itu… telah lahir dari rahim istri tercinta seorang anak yang menyejukkan pandangan, yang menentramkan hati,
Sungguh sebuah pelajaran yang berharga .. afwan bukan sebuah tapi banyak pelajaran yang berharga yang akan kita dapati jika kita melihat dan mengikuti detik demi detik proses persalinan istri kita.

Maka tak ayal lagi bagi kita… tak pantas bagi kita untuk berlaku dzalim, berlaku kurang ajar , tidak beradab bahkan kasar baik perbuatan dan ucapan terhadap orang tua kita. Terutama ibu. Sungguh sebuah perjuangan ketika seorang Ibu mengandung anaknya, membawanya dan berusaha untuk selalu menjaganya ke mana pun ia beraktivitas. Dan perjuangan itu ditambah lagi ketika akan melakukan persalinan. Sungguh sebuah rasa sakit yang tak dapat kita bayangkan sebagai seorang laki-laki. Maka sudah sepatutnyalah kita memuliakan , dan menghormati makhluk yang bernama wanita dan berstatus sebagai Ibu. Tak pantas bagi seorang laki-laki untuk berprilaku buruk dan kasar kepada seorang wanita.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam “Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap wanita-wanita kalian.” Rawahu Ahmad wa Tirmidzi dalam ash-Shohihah.
Dan tentunya saudaraku, sangat tidak pantas lagi apabila seorang anak berprilaku buruk dan kasar kepada kedua orang tuanya terutama Ibu. Dan kita diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk mempergauli kedua orang tua kita di dunia dengan baik. Bahkan didalam sebuah hadits riwayat al-Bukhari nomor hadits 5514, dari Abu Hurairah Radiyallahu Anhu , ia (Abu Hurairah) berkata, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?” maka dijawab oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam, “Ibumu.” (laki-laki) tersebut bertanya lagi, “lalu siapa lagi setelahnya ?” Beliau Shalallahu 'Alaihi Wasallam menjawab lagi, “Ibumu.” (si laki-lai tadi) bertanya lagi, “lalu siapa lagi setelahnya.” Dijawab lagi oleh Rasulullah, “Ibumu.” Ia (laki-laki tersebut) bertanya lagi, “lalu siapa lagi setelahnya ?” dijawab oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam , “Bapakmu.”

Sungguh Ikhwa Fillah ana menyaksikan dan mengikuti peristiwa besar itu dihadapan mata dan kepala ana sendiri. Sebuah peristiwa besar yang penuh dengan keajaiban. Ya keajaiban yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala sang penguasa Alam semesta. Allah yang menciptakan makhluk dan seluruh jagat raya beserta isinya ini. Maka sudah sepantasnyalah penghambaan kita, hanya ditujukan kepada-Nya tanpa ada ilah yang lain. Tanpa ada tandingan-tandingan lain tanpa terkecuali dan tanpa kompromi.

Segala puji hanya bagi Allah… Sungguh wahai saudaraku, ketika kita melihat dan menyaksikan bagaimana peristiwa persalinan itu berlangsung hingga lahirnya sang bayi…
Maka tiada ucapan dan rasa yang keluar dari lisan dan raga kita melainkan rasa syukur yang mendalam yang hanya patut kita tujukan kepada Allah Azza wa Jalla, Rabb yang maha rahman lagi Maha Rahim. Tiada daya dan upaya semuanya melainkan hanya karna pertolongan Allah.

Ya Allah ! Aku memohon kepada-Mu segala kebaikan (di dunia dan diakhirat) baik yang ku ketahui atau yang tidak ku ketahui… Ya Allah, aku berlidung kepada-Mu dari segala keburukan (didunia dan akhirat) baik yang ku ketahui atau yang tidak ku ketahui. Ya Allah, Aku memohon Surga-Mu dan semua cara yang mengantarkan kesana, baik ucapan maupun perbuatan. Ya Allah, Aku berlindung dari siksa neraka dan semua jalan yang mengantarkan kesana, baik ucapan maupun perbuatan. Ya Allah… Aku memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan akhir dari segala perkara yang telah Engkau tetapkan untuk ku baik bagiku. Amin Ya Rabbal Alamin…