Rabu, 27 Agustus 2008

Waspada Terhadap Yahudi dan Produknya

Bismillahirrahmaa nirrahim
Assalamu 'Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tulisan ini ana kutip dari tulisan Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc.

Semoga bermanfaat
Tak bisa dimungkiri, negara-negara muslim kini dibanjiri produk-produk niaga dari perusahaan multinasional yang dikuasai Yahudi. Namun ada hal lebih besar yang mesti diwaspadai. Yakni, “produk” mereka yang bersentuhan dengan syariat. Jangan sampai, misalnya, kita berada di “garda terdepan” dalam kampanye boikot produk niaga Yahudi - yang masih perlu dibahas tentang perlu atau tidaknya-, namun justru menjadi pengawal demokrasi, sistem politik yang mewadahi beragam kaidah rusak ala Yahudi.
Siapa Yang Tak Kenal Yahudi?!
Yahudi adalah kaum yang terkutuk, karakternya pun amat buruk, curang, licik, angkuh dan zhalim. Dengan bermodalkan karakter yang buruk ini, dilengkapi kelihaian mengotak-atik otak, terbentuklah mereka sebagai bangsa yang ‘usil’. Tak hanya manusia biasa yang mereka usili, para rasul yang senantiasa membimbing mereka pun kerap kali menjadi obyek usilan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan Sesungguhnya kami Telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan kami Telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan Telah kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?”
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Suci lagi Maha Kuasa tak luput pula dari ulah usil mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggudan merekalah yang dila'nat disebabkan apa yang Telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; dia menafkahkan sebagaimana dia kehendaki.” (Al-Ma`idah: 64)
Subhanallah… Betapa bejat dan bobroknya kaum Yahudi. Tak heran bila Allah Subhanahu wa Ta’ala timpakan kepada mereka kenistaan, kehinaan, kemurkaan, dan kutukan, sebagaimana dalam firman-Nya: “lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. hal itu (terjadi) Karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) Karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.”
“Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka. Maka sedikit sekali dari mereka yang beriman.” (Al-Baqarah: 88)
Sikap Yahudi terhadap Islam dan kaum muslimin juga demikian buruk. Bahkan merekalah orang yang paling keras permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Permusuhan itu mereka gulirkan secara estafet sejak awal masa keislaman dan terus akan berlanjut hingga akhir zaman nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kamu akan dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Al-Ma`idah: 82)
Tiada tujuan lain dari permusuhan yang keras itu melainkan untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agama Islam yang haq dan menyeret mereka kepada agama dan hawa nafsu Yahudi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan rela kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (Al-Baqarah: 120)

Mengenali Produk Yahudi

Bismillahirrahmaa nirrahim
Assalamu 'Alaikum Warahmatullahu Wabarakatuh
Wahai saudaraku yang tegak diatas manhaj yang haq, Sungguh telah banyak kita dengar dan saksikan saudara-saudara kita meneriakkan slogan "Boikot Produk Yahudi". Nah berikut produk Yahudi yang harus diwaspadai dan diboikot. Produk ini adalah yang berkaitan dengan pemikiran mereka dalam hal aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. jadi jangan dikira produk Yahudi itu hanya bersifat kebendaan saja. Produk Yahudi juga bersifat pemikiran dalam aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Dan kita patutlah waspada dan memboikotnya. Karena hal-hal tersebut atau produk-produk tersebut sangat berbahaya bagi agama kaum muslimin.
Nah Saudaraku (Semoga Allah Azza Wajalla memberikan kita kekuatan untuk melawan dan memboikot produk Yahudi ini), adapun di antara produk-produk tersebut adalah:
1. Menjadikan kubur nabi atau orang-orang shalih sebagai masjid/tempat ibadah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur-kubur para nabi mereka sebagai masjid/tempat ibadah.” (HR. Muslim, no. 530, dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu 'anha)
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Aku tidak menyukai (yakni mengharamkan) sikap pengagungan terhadap seseorang hingga kuburnya dijadikan sebagai masjid/tempat ibadah, karena khawatir menjadi fitnah baginya dan bagi orang-orang sepeninggalnya.” (Al-Umm, 1/278)
2. Melecehkan para nabi dan ulama
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Sesungguhnya kami Telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan kami Telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan Telah kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al-Baqarah: 87)
Sikap ini diwarisi oleh ahlul bid’ah, sebagaimana yang dikatakan Al-Imam Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni rahimahullahu: “Tanda dan ciri utama ahlul bid’ah adalah permusuhan, penghinaan, dan pelecehan yang luar biasa terhadap para pembawa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yakni para ulama).” (‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits, hal.116)
3. Dengki terhadap orang-orang yang beriman
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah: 109)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang Yahudi, karena kedengkian mereka terhadap kaum mukminin yang berada di atas petunjuk dan ilmu (yang benar). Penyakit ini pun menimpa kalangan orang berilmu dan yang lainnya. Yaitu dengan mendengki orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri petunjuk, baik berupa ilmu yang bermanfaat atau pun amal shalih. Ini merupakan akhlak yang tercela dan akhlak orang-orang yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Iqtidha` Ash-Shirathil Mustaqim, 1/83)
4. Kikir ilmu dan harta
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang Telah diberikan-Nya kepada mereka. (An-Nisa`: 36-37)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang-orang Yahudi dengan sifat kikir; yakni kikir ilmu dan harta. Walaupun sebenarnya konteks ayat ini lebih mengarah kepada kekikiran mereka dalam hal ilmu…”
Di tempat yang lain beliau berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang-orang yang mendapat murka ini (Yahudi), bahwa mereka (mempunyai kebiasaan) menyembunyikan ilmu. Terkadang karena kikir untuk menyampaikannya, terkadang karena tendensi dunia, dan terkadang pula karena rasa khawatir kalau ilmu yang disampaikan itu akan menjadi hujjah atas mereka (bumerang).” (Lihat Iqtidha` Ash-Shirathil Mustaqim, 1/83-84)
5. Tidak mau mengikuti kebenaran kalau bukan dari kelompoknya, dalam kondisi mengetahui bahwa itu adalah kebenaran
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah," mereka berkata: "Kami Hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka” (Al-Baqarah: 91)
Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan ayat di atas setelah firman-Nya: “padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, Maka setelah datang kepada mereka apa yang Telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Al-Baqarah: 89)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang-orang Yahudi bahwa mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran. Namun manakala yang menyampaikannya bukan dari kelompok mereka, maka tidak diikutinya. Mereka tidak mau menerima kebenaran kecuali yang datang dari kelompoknya semata, padahal mereka yakin bahwa hal itu semestinya harus diikuti.” (Iqtidha` Ash-Shirathil Mustaqim, 1/86)
6. Mengubah-ubah perkataan (kebenaran) dari tempat yang sebenarnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya “ (An-Nisa`: 46)
Di antara contoh perbuatan kaum Yahudi ini adalah apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan pada lanjutan ayat di atas: Mereka Berkata : "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. dan (mereka mengatakan pula) : "Dengarlah" sedang kamu Sebenarnya tidak mendengar apa-apa. dan (mereka mengatakan) : "Raa'ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. sekiranya mereka mengatakan : "Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, Karena kekafiran mereka. mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (An-Nisa`: 46)
Demikianlah beberapa produk Yahudi yang harus dijauhi dan diboikot. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kaum muslimin dari semua makar-makar Yahudi.

Selasa, 26 Agustus 2008

Penyebab Kemakmuran Umat Islam

Bismillahirahmaa nirrahim
Assalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah Ta’ala yang telah mempersaudarakan kita kaum muslimin diatas aqidah dan manhaj yang lurus. Semoga Shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada manusia teladan, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut sunnahnya hingga hari kiamat.
Sekali lagi wahai saudaraku.... Ana mengingatkan diri ana sendiri dan antum semua untuk berhati-hati terhadap PAKAR PERUSAK ISLAM, sebagaimana yang disampaikan ibnu Katsir (semoga Allah merahmatinya), sebagaimana yang ana kutip dari Al-furqon, Abdullah bin al-Mubarak rahimahumullah ta'aala berkata : “Tidaklah dirusak agama Islam ini melainkan oleh tiga golongan : PEMIMPIN YANG CURANG, ULAMA SESAT dan AHLI IBADAH yang TERSESAT. Selain itu saudaraku dijelaskan oleh al-Imam Ibnu Abil Izz di dalam Syarah Aqidah ath-Thahawiyah bahwa pemimpin yang curang ialah ia (pemimpin) yang menolak syari’at Islam karna mengutamakan kepentingan kelompok, golongan dan politik, dimana jika urusan dunia politik bertentangan dengan syariat Islam , maka yang didahulukan adalah kepentingan politik. Maka dari itu saudaraku pilihlah pemimpin yang bertauhid yang mau perduli dengan agama ini, yang perduli dengan kepentingan Umat. Sedangkan Ulama Sesat yakni ulama yang keluar dari ketentuan syari'at Allah, karna lebih mementingkan pendapatnya, mementingkan kepentingan firqohnya atau kelompoknya dan menghalalkan apa yang Allah Azza Wajalla dan Rasul-Nya haramkan serta mengharamkan apa yang dihalalkan. Dan jika dalil nash bertentangan dengan akalnya maka ia mendahulukan akal. Dan yang terakhir saudaraku, bahwa Ahli ibadah yang sesat ialah mereka yang menolak hakikat iman dan syariat Islam, karma lebih berpedoman dengan perasaan, khayalah dan bisikan syaitan. Dimana mereka Menentukan Syariat baru dan membatalkan dien yang hak yang disyariatkan Allah lewat lisan Rasul-Nya dengan mengganti hakikat Iman. Jadi jika dalil nash bertentangan dengan perasaannya atau angan-angannya maka mereka berkata : “kami mendahulukan perasaan. naudzubillahi mindzalik !!!
Wahai Saudaraku (semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat), Ibnu Katsir Rahimahullahu ta'aala di dalam tafsirnya berkata : ”Manusia pada umumnya membutuhkan ulama, ahli ibadah, dan orang-orang yang memiliki kedudukan atau harta. Jika mereka bertiga (para ulama, ahli ibadah dan orang-orang yang memiliki kedudukan atau harta) rusak, maka rusaklah keberadaan umat.”
Kemudian di dalam Hilyatul Auliya yang ana kutip dari Al-Furqon, Ziyad bin Jarir berkata, “Aku pernah datang kepada Umar bin Khaththab Radiyallahu Anhu, lalu beliau (Umar Radiyallahu Anhu) bertanya kepadaku, ‘Tahukah kamu penghancur agama Islam ? Yaitu Ulama yang tersesat, bantahan orang munafik terhadap al-Qur’an dan keputusan pemimpin yang tersesat.
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim (Semoga Allah Merahmatinya), Ummul Mukminin ‘Aisyah Radiyallahu Anha berkata bahwa Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya),"Sesungguhnya orang yang paling di-MARAHI oleh Allah ialah orang yang suka membantah dalil.”
Untuk itulah saudaraku.. mari kita pilih pemimpin yang baik yang adil yang membela kepentingan umat, kita bulatkan tekad kita agar al-Islam tetap tegak, tetap jaya sehingga kita tidak ditimpakan adzab dan kehancuran.
Selain mengetahui penyebab dari kehancuran, maka kita juga perlu untuk mengetahui sebab-sebab kemakmuran. Untuk itu ana kutipkan dari Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, Al-Alamah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Semoga Allah Merahmatinya) mengatakan, "untuk mengeluarkan dunia Islam dari kekacauan berupa perbedaan pendapat, kesenjangan aqidah, politik , social, dan ekonomi, maka hal tersebut akan terwujud dengan berpegang kepada Islam , berhukum dengan syari’at islam dalam semua urusan. Maka dengan prinsip ini, mereka (kaum muslimin) akan berpadu dan hati bersatu. Inilah satu-satunya obat mujarab untuk menyelesaikan (masalah) dunia islam yang sekarang kita rasakan goncang, timbul perselisihan dan kehancuran." Dan Allah Azza Wajalla berfirman di dalam Surah Muhammad ayat 7 :
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Selain itu Saudaraku (semoga Allah Azza Wajalla merahmati kita dan meridhoi apa yang kita usahakan). Allah Azza Wajalla berfirman di dalam Surah an-Nur ayat 55 yang artinya :
“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.”
Akan tetapi saudaraku jika para pemimpin didalam suatu negeri atau wilayah atau daerah (terkecuali yang mendapat petunjuk) mencari petunjuk dan hukum selain al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam, berhukum dengan selain hukum Allah dan berhukum dengan hukum yang dibuat oleh musuh Allah, maka kaum tersebut tidak akan mendapatkan jalan keluar dari perselisihan dan pertengkaran sesama mereka. Sebagimana Allah Azza wajalla jelaskan didalm kitab-Nya yang agung, Al-Qur’an al-Karim Surah Ali Imran ayat 117 :
“Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
Nah untuk itulah saudaraku, janganlah kita aniaya diri kita dengan memilih pemimpin yang tidak seaqidah dengan kita, atau tidak tegak diatas manhaj yang jelas. Dimana nantinya mereka akan menganiaya kita dengan memaksakan kehendaknya untuk suatu hal yang bertentangan dengan Syariat dan petunjuk Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Untuk itulah mari kita persiapkan diri kita, keluarga dan sanak saudara kita untuk menyongsong pemimpin yang adil dengan memilih orang –orang yang layak kita amanahi untuk jabatan pemimpin tersebut. Sebagaimana Qur’an Surah al-Anfal ayat 60 : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi …”
Nah Saudaraku seaqidah dan se-Iman...Adapun penyebab kemakmuran atau kejayaan antara lain yakni
Istiqomah di atas Syari’at
Dalam hal ini saudaraku pemimpin dan rakyat wajib kembali kepada syari’at Islam. Bagaimanapun besarnya musuh, jika kaum muslimin istiqomah maka musuh tidak akan dapat menghilangkan ilmu dan menghancurkan kaum muslimin. Karna Hal ini telah Allah Azza Wajalla jelaskan di dalam Qur’an surah al-Maidah ayat 105 :
“ Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu Telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka dia akan menerangkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.”
Senada dengan nash ilahi ini, Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (Semoga Allah Merahmatinya), dari Tsauban Radiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Senantiasa ada golongan dari umatku (yang menjadi) pembela kebenaran (islam), tidaklah membahayakan kepadanya orang yang menghinannya sampai datang hari kiamat, sedangkan mereka tetap teguh.”
Al-Alamah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Semoga Allah Merahmatinya), di dalam Majmu Fatawa nya berkata : “Maka wajib bagi pemimpin dan rakyat agar Istiqomah diatas Islam, berpegang teguh dengan syariatnya, berpijak kepada hukumnya, baik dari segi perkataan, perbuatan, dan aqidah, demikian juga wala’ dan bara’ dan senang atau benci. Inilah jalan kemenangan dan kebahagiaan. Jika pemimpin dan rakyat beristiqomah di atas islam, maka tidaklah musuh akan membahayakan.” Wallahu ‘Alam
Nah ! Adapun Penyebab kemakmuran lainnya yakni Bersabar menghadapi Musuh.
Jadi, yang namanya pemimpin dan orang muslim haruslah menyadari, hingga kapanpun serangan dari para musuh islam tidak akan kunjung padam. Dan kita bisa merasakannya sekarang. Karna hal itu sudah merupakan Sunatullah dipermukaan bumi, dimana setiap kaum muslimin selagi berpegang di bawah panji-panji atau bendera-bendera dienul islam pasti dimusuhi, sebagaimana yang Allah Azza Wajalla terangkan di Surah al-An’am ayat 112 : “Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”
Dan kita diperintahkan untuk bersabar menghadapi mereka (musuh Islam) dengan melawannya sesuai Sunnah, bukan mengikuti gaya mereka. Dan itulah pangkal kemenangan, sebagaimana kesabaran Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam ketika berdakwah di kota Mekkah. Dan Allah Azza Wajalla jelaskan hal itu di Qur’an Surah Ali Imran ayat 120 : “ jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”
Mari saudaraku se-Aqidah, se-Iman (semoga Allah Azza Wajalla menegakkan kita diatas Sunnah Nabi-Nya yang Shohiih), mari kita merenung sedikit… inginkah kita dihancurkan oleh musuh-musuh islam hanya karna keteledoran dan kesalahan kita sendiri… dan kita berharap apa yang tercantum di dalam hadits Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam berikut ini tidak menimpa kita. Dimana diriwayatkan oleh al Imam Muslim di dalam Shohihnya, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
“Akan datang sesudahku para pemimpin, mereka tidak mengambil petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku. Dan kelak akan ada para pemimpin yang hatinya seperti hati syaithan dalam jasad manusia.” Maka aku berkata : “Ya Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku mendapati hal ini?” Berkata beliau : “Hendaklah engkau mendengar dan taat pada amirmu walaupun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.”
Wallahu ‘Allam bishowab… semoga bermanfaat.

Malu adalah Hakekat Kehidupan

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirahhamaanirrahim
Segala puji hanya milik Allah Ta’ala yang telah mempersaudarakan kita kaum muslimin diatas aqidah dan manhaj yang lurus. Kita memohon ampun kepada-Nya dan Kita berlindung kepada-Nya dari segala kejelekan-kejelekan jiwa kita dan dari kejelekan-kejelekan amalan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dia telah mendapat petunjuk dan barangsiapa yang sdisesatkan-Nya maka tiada baginya wali dan pembimbing. Semoga Shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada manusia teladan, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut sunnahnya hingga hari kiamat.
Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah, setelah lama ana tak mengisi ini blog dengan tulisan-tulisan atau pun kutipan - kutipan dari para ustadz dan ahlul ilmu, maka hari ini ana akan memasukkan tulisan ana yang sempat dibawakan oleh rekan-rekan di sebuah Radio Swasta di dalam sebuah program acara, dimana tulisan ini bukan lah murni dari diri ana sendiri melainkan menghambil dari banyak sumber yang insya Allah terjaga ke tsiqohannya yang tegak diatas Sunnah serta manhaj yang haq manhajnya para Sahabat Ridwanallahu 'Alaihim Jamian. tulisan ana kali mengenai sikap dan akhlak dalam menghadapi kehidupan global yang penuh tantangan ini yakni akhlak Malu,.
Wahai Saudaraku, kata malu bukanlah istilah baru dalam perbendaharaan kata kita semua. Bahkan Saudaraku, bagi anak-anak sekalipun, kata malu merupakan kata yang kerap kali terucap. Terlepas apakah mereka memahami hakikat nya atau tidak. Namun kenyataannya , seringkali kita mendengar mereka mengucapkan kata Malu. Belum lagi kalau kita melihat atau menilik kehidupan yang ada sekarang ini, maka sering terungkap kata malu dengan beragam maksud serta maknanya. Ada yang bermaksud memuji, bahkan kata-kata tersebut digunakan untuk mencacai atau menghardik. Namun yang pasti saudaraku, Malu merupakan hal yang secara turun-temurun menjadi syari’at yang disampaikan oleh para nabi yang terdahulu sampai Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Mari perhatikan, hadits berikut yang diriwayatkan oleh al-Imam Al-Bukhari (semoga Allah merahmatinya) dari Sahabat Ibnu Mas’ud Radiyallahu Anhu, ia berkata Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya diantara nasehat yang didapatkan orang-orang dari sabda nabi-nabi terdahulu : “Apa bila tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu.” Jadi saudaraku (semoga kita diberikan ilmu yang bermanfaat oleh Allah Azza Wa jalla) , betapa sifat Malu itu sangat urgen dalam kehidupan seseorang , bahkan "malu" merupakan hal yang tidak boleh hilang dari kehidupan seseorang. lantas saudaraku, Kenapa malu begitu mulia dan diperioritaskan dalam ajaran para Nabi ?
Ketahuilah Saudaraku (semoga Allah memberkahi Kita), karna malu merupakan hakikat kehidupan. Wallahu ‘allam
selanjutnya. yang namanya Kata "malu" jika ditinjau dari segi bahasa (bahasa Arab maksudnya) berasal dari kata yang artinya hidup. Adapun menurut istilah sebagaimana yang disimpulkan oleh para ulama, yang tertulis di dalam Fathul Bariy yang ana kutip dari al-Mawaddah, Malu adalah sebuah akhlaq atau perangai yang memberikan motivasi kepada orang yang memilikinya untuk meninggalkan segala keburukan, dan akan membentengi dirinya dari kecerobohan dalam nenunaikan hak kepada para pemilik hak tersebut.
Dan ternyata yang namanya malu ada dua bagian, dimana malu yang pertama dinamakan Malu Jibiliyah atau malu Tabiat. Malu ini saudaraku merupakan malu yang Allah Azza Wajalla telah anugerahkan kepada seorang hamba, dan menjadikannya sebagai sifat kemanusian hamba tersebut. Adapun Malu yang lainnya yakni Malu Muktasabah. Yakni Malu yang timbulnya disebabkan pengetahuan dan pengenalan seorang hamba terhadap sang Khlaik yakni Allah Azza Wajalla, dimana hamba tersebut mengetahui akan kebesaran Allah, mengetahui bahwa Allah Azza Wajalla dekat, mengetahui bahwa Allah Azza Wajalla mengetahui setiap perkara baik yang tersembunyi maupun yang nampak, mengetahui bahwa Allah Azza Wajalla selalu memperhatikannya begitu dan seterusnya. Nah malu ini, maksudnya malu Muktasabah merupakan derajat iman paling tinggi, bahkan malu ini juga merupakan derajat ihsan paling tinggi. Wallahu ‘Allam. Dan kadang-kadang yang namanya rasa malu juga muncul disebabkan karena seseorang memperhatikan nikmat-nikmat Allah, dan merasakan bahwa dia sangat kurang dalam bersyukur akan nikmat Allah.
berikut ini ana kutipkan tulisan al Ustadz Abu Qutadah sebagaimana yang ana kutip dari al-Mawaddah, malu bisa dilihat dari wujud kemunculannya pada diri seseorang. Yakni Malu yang terpuji dan malu yang tercela. Adapun malu yang terpuji ialah malu yang menjadi pendorong untuk selalu berbuat kebaikan dan membentengi diri dari berbuat keburukan. Sedangkan malu yang tercela yakni malu yang justru menjadi penghalang seseorang dalam melakukan kebaikan , seperti malu untuk talabul ilmi , malu bertanya akan sesuatu yang ia tidak tahu, malu mengamalkan sunnah karna takut dihina dan dicerca, malu mengamalkan sunnah karna tidak lazim digunakan masyarakat, malu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan malu untuk beribadah atau malah malu untuk menempuh semua ketaatan. Dan malu yang seperti ini saudaraku bukanlah malu yang sebenarnya , akan tetapi malu ini adalah jerat-jerat Syaitan, yang menjauhkan kita dari Allah Azza Wajalla . Wallahu a'lam bish-shawab.
semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat. insya Allah masih ada yang ingin ana sampaikan mengenai malu ini , semoga di lain hari dapat ana posting.