Selasa, 28 Desember 2010

Hukum Islam dalam menyambut / merayakan Tahun Baru Masehi

بِسْمِ الّلهِ الرَّ حْمنِ الرَّ حِيمِ

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, Rabb yang maha pengasih lagi maha penyayang. Shalawat dan salam untuk Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam, Semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam sampai hari kiamat.

Wahai saudaraku yang mencintai sunnah, tak terasa kita saat ini berada dipenghujung perhitungan tahun masehi. Sungguh ada hal-hal yang patut kita waspadai dan cermati. Karna disana, dipenghujung tahun masehi biasanya ada perayaan-perayaan yang merupakan salah satu ibadahnya kaum nasrani. Kaum yang menyimpang dari ketentuan Allah Azza wa Jalla.

Untuk itu, sebagai bentuk kehati-hatian dan menaati Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, agar aqidah kita sebagai seorang muslim tetap terjaga, dan tidak terjebak kedalam budaya jahiliyah dan budaya kaum kufar. Maka pada postingan kali ini, kami akan membawakan fatwa-fatwa dari Ulama-ulama terkemuka dunia yang berdomisili di Saudi Arabia, yang tergabung dalam Al-Lajnah ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al ifta. Yang diketuai oleh Syaikh 'Abdul-'Aziz bin 'Abdullaah bin Muhammad aalus-Syaikh, dengan Wakil Ketua Syaikh 'Abdullaah Ibnu 'Abdur-Rahmaan al-Ghudayyaan, dan Anggotanya Syaikh Saalih bin Fauzaan al-Fauzaan serta Syaikh Bakar bin 'Abdullaah Abu Zaid. Dimana keilmuan mereka ini tak diragukan lagi, mereka terkenal akan ke ke-Istiqomahannya dalam menegakkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah didalam kehidupan mereka. Dan kami sampaikan bahwa postingan ini juga banyak mengambil manfaat dan mengutip, dari pengantar fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para ulama tersebut. Semoga Allah menjaga mereka dan merahmati apa yang mereka usahakan.

Sungguh saudaraku se-Iman se-aqidah, nikmat yang ter-besar yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada kita, para hamba-Nya, adalah nikmat Islam, dan nikmat hidayah kepada jalan-Nya yang lurus. Dimana Allah Ta’ala mewajibkan kepada para hamba-Nya yang beriman, agar memohon hidayah-Nya di dalam setiap shalat-shalat yang didirikan, dan kita selaku hamba-Nya memohon kepada-Allah Azza wa jalla, agar mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus dan istiqomah di atasnya. Dan dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan karakteristik jalan tersebut, yakni jalan orang-orang yang Allah beri nikmat, jalannya para Nabi, jalannya para shiddiqin, jalannya para syuhada dan jalannya orang-orang lurus, dan bukan jalan orang-orang yang menyimpang darinya, yakni Yahudi, Nashrani dan seluruh orang-orang kafir dan musyrikin.

Tentunya, jika nikmat-nikmat terbesar tersebut sudah diketahui dan disadari oleh setiap jiwa-jiwa kaum muslimin, maka wajib bagi seorang Muslim untuk mengenal kadar nikmat tersebut, yang dengan nikmat tersebutlah, mestinya kita bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla melalui lisan, amalan dan keyakinan kita. Selain itu tentunya kita juga hendaknya menjaga nikmat tersebut, dan memeliharanya, serta melakukan sebab-sebab yang dapat menghindarkan hilangnya nikmat tersebut dari diri kita. Dan beruntunglah, serta bersyukurlah, orang-orang yang telah diberikan pandangan yang mendalam yakni bashirah terhadap Dienullah, Bashirah terhadap Agama allah yang haq dan lurus ini dalam menjalani kehidupan, (semoga kita termasuk di dalamnya ! ).

Wahai saudaraku yang membenci bid’ah, kita ketahui dan rasakan bersama, saat ini telah terjadi pen-campur-adukan antara al-haq dan al-batil atas kebanyakan orang. Maka bagi orang-orang yang diberikan Bashirah, ia akan melihat dengan jelas segala upaya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam, untuk menghilangkan kebenarannya, dan memadamkan cahayanya, untuk menjauhkan kaum muslimin dari agamanya serta menghilangkan jalan yang memungkinkan untuk kembali pada Dienul Islam yang haq. Selain itu ikhwa fillah, marak sekarang ini propaganda, dalam upaya memperburuk citra Islam, dengan melakukan kebohongan-kebohongan atasnya, guna menghalangi seluruh manusia dari jalan Allah dan dari beriman kepada wahyu yang diturunkan atas Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk itu mari kita perhatikan firman Allah Azza wa Jalla di dalam Surah Al-Baqoroh ayat 109 :
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا

حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ

مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
Yang artinya : “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.”

Selanjutnya didalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imron ayat 69, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ

وَمَا يُضِلُّونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Artinya : Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.”

Selain itu, diayat yang lain, yakni ayat ke-149, namun masih dalam Surah yang sama, yakni Surah Ali Imron, Allah azza wa Jalla berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا

إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا

يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ

فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta`ati orang-orang yang kafir tu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.
Jadi telah nyata dan jelas, bahwa orang-orang kafir dalam hal ini khusunya para ahli kitab, akan menghalang-halangi kita dari jalan Allah.

Namun kita janganlah bersedih atau berputus asa, karna meskipun demikian, Allah Ta'ala telah berjanji untuk menjaga Dien-Nya dan kitab-Nya, dari kejahilan dan peng-rusakan orang-orang kafir. Dimana Allah berfirman di dalam Surah Al-Hijr ayat 9 :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Dan tentunya, segala puji bagi Allah.

Dimana, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita, bahwa akan selalu muncul suatu golongan dari umatnya yang berjalan di atas al-haq, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka, ataupun menentang mereka, hingga datangnya hari Akhir.

Sekalai lagi wahai saudaraku. Segala puji bagi Allah, dan kita memohon kepada-Nya, Yang Maha Dekat dan Mengabulkan Do’a, agar menjadikan kita dan saudara-saudara kita kaum Muslimin, termasuk dari golongan tersebut, yakni Thaifah Al-Mansyurah. Atau yang juga biasa disebut Al-Firqotun an-Najiyah.

Untuk itu, selalu lah dalam ketaqwaan kepada Allah, perbanyaklah bermajelis ilmu yang didalam nya diajarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah, dan ber-amallah sesuai dengan kemampuan kita serta bersabarlah. Sungguh apabila kita menetapi jalannya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Ridwanallahu ‘alaihim jamian, kita akan terselamatkan di dunia dan akhirat. Insya Allah !

Karna Rasulullah telah mengabarkan bahwa yang namanya jama’ah itu yakni Ma ana alaihi wa ashabi “Yang Aku dan para Sahabatku berada diatasnya”. Jadi jangan ragu untuk mengamalkan Sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam di dalam kehidupan kita. Memang kita akan terasa asing ketika mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah, namun memang begitulah yang digariskan. Bahwa Islam itu awalnya asing, kemudian akan kembali asing. Dimana umatnya akan merasa asing ketika ada orang yang mengamalkan sunnah. Selain itu juga ada sebagian yang berpendapat, bahwa mengamalkan sunnah sekarang ini, ibaratkan menggenggam bara api... namun tidaklah mengapa wahai saudaraku, karna barangsiapa yang menegakkan sunnah, ia akan mendapatkan kemenangan yang besar. Dan tentunya apabila kita berpegang dan menjalankan apa yang Rasulullah sampaikan, kita tidak akan dapat disesatkan oleh para ahli kitab dan kaum kufar lainnya. Karna kita telah mengetahui makar-makar serta propaganda-propaganda mereka, melalui hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam, serta atsar-atsar para sahabat Ridwanallahu ‘Alaihim Jamian. Semoga Allah Azza wa Jalla selalu melimpahkan kepada kita Hidayah, dan memberikan kepada kita Ilmu yang bermanfaat, serta memberikan kita kemudahan dan kekuatan untuk mengamalkan Sunnah. Laa hau laa wa laa quata illa billah... tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah

Dan sebagaimana yang ana sampaikan diawal, bahwa pada postingan kali ini akan berisikan fatwa-fatwa Ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al ifta. Yakni Komite Permanen untuk Penelitian Islam dan Fatwa, yang diketuai oleh Syaikh 'Abdul-'Aziz bin 'Abdullaah bin Muhammad aalus-Syaikh, dengan Wakil Ketua Syaikh 'Abdullaah Ibnu 'Abdur-Rahmaan al-Ghudayyaan, yang beranggotakan Syaikh Saalih bin Fauzaan al-Fauzaan serta syaikh Bakar bin 'Abdullaah Abu Zaid. Dimana Komite Permanen untuk Penelitian Islam dan Fatwa ini, setelah mendengar dan melihat adanya penyambutan yang begitu meriah, dan perhatian yang serius dari orang-orang Yahudi dan Nashrani, serta orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam, serta yang terpengaruh oleh mereka, berkenaan dengan berakhirnya tahun Masehi dan datangnya tahun baru Masehi, menurut kalender Eropa atau Masehi, maka tidak bisa tidak, Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah wal Ifta merasa perlu dan berkewajiban memberikan nasehat, dan penjelasan kepada seluruh kaum Muslimin tentang makna momentum ini, serta hukum syariat Islam yang murni ini atasnya, sehingga kaum Muslimin memahami dengan baik Agama mereka, dan berhati-hati atas penyimpangan, dan kesesatan yang dimurkai Allah .

Berikut petikan fatwa tersebut, dimana Dikatakan didalam fatwa pertama :

Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani menyertakan atas millennium ini berbagai kejelekan, penderitaan, harapan-harapan, dengan begitu yakin akan terealisasinya hal itu atau paling tidak kearahnya, karena menurut anggapan mereka hal ini telah melalui riset dan penelitian. Demikian pula, mereka mengkaitkan sebagian permasalahan doktrin mereka dengan momentum ini dengan anggapan bahwa hal itu berasal dari ajaran kitab-kitab mereka yang sudah dirubah. Maka, wajib bagi seorang Muslim untuk tidak tertarik kepada hal itu dan tergoda olehnya bahkan seharusnya muslimin merasa cukup dengan Kitab - Rabbnya Ta'ala - dan Sunnah NabiNya (Shallallahu 'alaihi wasallam) dan tidak memerlukan lagi selain keduanya. Sedangkan teori-teori dan spekulasi-spekulasi dan pernyataan atau opini yang bertentangan dengan keduanya tidak lebih hanya kepalsuan belaka.

Adapun fatwa yang kedua :

Momentum ini (yakni perayaan tahun baru Masehi) dan semisalnya, tidak lepas dari pen-campur-adukan antara al-haq dan al-bathil, propaganda kepada kekufuran, kesesatan, tidak bermoral dan kemurtadan yang merupakan manifestasi dari kesesatan menurut syari'at Islam. Diantaranya propaganda kepada penyatuan agama-agama atau pluralisme, penyetaraan Islam dengan aliran-aliran dan sekte-sekte sesat lainnya, penyucian terhadap salib dan penampakan simbol-simbol kekufuran, yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani dan Yahudi, serta perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan semisalnya yang mengandung beberapa hal ; bisa jadi pernyataan bahwa syari'at Nashrani dan Yahudi yang sudah diganti dan dihapus tersebut, dapat menyampaikan kepada Allah juga. Bisa jadi, adanya anggapan baik terhadap sebagian dari ajaran kedua agama tersebut yang bertentangan dengan Dien al-Islam. Semuanya dalam rangka penambahan atas fakta, yang merupakan bentuk kekufuran kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada Islam dan konsensus atau ijma' umat ini. Apalagi hal itu adalah sebagai salah satu bentuk penjauhan Muslimin dari ajaran-ajaran agama mereka.

Adapun fatwa yang ketiga Berbunyi :

Banyak sekali dalil-dalil dari al Kitab dan as-Sunnah, serta atsar-atsar yang shahih (dari Sahabat dan lainnya), yang melarang untuk menyerupai orang-orang kafir, di dalam hal yang menjadi ciri dan kekhususan mereka. Diantara hal itu adalah menyerupai mereka dalam festival hari-hari besar dan pesta-pesta mereka. Hari besar maknanya (secara terminologis) adalah sebutan bagi sesuatu, termasuk didalamnya setiap hari yang datang kembali dan berulang, yang dirayakan oleh orang-orang kafir. Atau sebutan bagi tempat orang-orang kafir dalam menyelenggarakan perkumpulan keagamaan.
Jadi, setiap perbuatan yang mereka ada-adakan di berbagai tempat, atau waktu-waktu keagamaan mereka, maka itu termasuk hari besar atau 'Ied mereka. Karenanya, larangannya bukan hanya atas hari-hari besar yang khusus buat mereka saja, akan tetapi setiap waktu dan tempat, yang mereka rayakan atau agungkan, yang sesungguhnya tidak ada landasannya di dalam Dienul Islam. Demikian pula termasuk larangan, perbuatan-perbuatan yang mereka ada-adakan di dalamnya, juga termasuk ke dalam hal itu. Ditambah lagi dengan hari-hari sebelum dan sesudahnya, yang nilai religiusnya bagi mereka sama saja, sebagaimana yang disinggung oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam Iqtida as-Siraat al-Mustaqim.
Diantara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman-Nya di Surah Al-Furqoon ayat 72 :
وَالَّذِينَ لاَ يَشْهَدُونَ الزُّورَ
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu...
Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Sekelompok Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan Rabi' Ibnu Anas, menafsirkan bahwa kata "Az-Zuura" (di dalam ayat tersebut) diartikan sebagai hari-hari besar orang kafir.

(kemudian) Dalam hadits yang shahih, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, saat Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa sallam) datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar atau 'Ied untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, "Dua hari untuk apa ini ?". Mereka menjawab, "Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa Jahiliyyah". Lantas beliau bersabda (yang artinya) : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya : Iedul Adha dan Iedul Fithri" hadits ini derajatnya shohiih, Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunanul-Kubra dan dalam Kanzul-'Amal.

Selain itu Umar Ibn al Khaththab Radhiyallahu 'anhu berkata, "Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka" Umar Ibn Al Khaththab Radiyallahu ‘anhu berkata lagi, "Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka". Hadits ini Sahih, diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Musannaf, dan telah disahihkan oleh Ibn Taymiyyah in al-Iqtidaa. Wallahu a’lam bish-shawab.

Nah saudaraku, demikianlah beberapa fatwa dari Komite Permanen untuk Penelitian Islam dan Fatwa, atau yang dikenal dengan Al-Lajnah ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al ifta mengenai hukum merayakan atau menghadiri perayaan Tahun baru Masehi atau sejenisnya. Dan insya Allah fatwa-fatwa mengenai hal tersebut akan kami lanjutkan pada postingan berikutnya, Semoga bermanfaat.

Rabu, 08 Desember 2010

Keagungan Muharram

بِسْمِ الّلهِ الرَّ حْمنِ الرَّ حِيمِ

Wahai saudaraku yang mencintai Sunnah, semoga Allah Azza wa Jalla selalu melimpahkan Rahmat-Nya pada kita semua. Adalah sudah menjadi kewajiban kita, yakni selaku seorang Muslim, untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata 'ala disetiap tempat, dan disetiap keadaan. Terutama sekali nih, diwaktu-waktu yang Faadhil atau Utama. Sebab, pada saat yang utama itulah, pahala dan ganjaran amalan ketaatan kita akan lebih besar dan berlipat ganda.

Nah sekarang ini, kita sedang berada disalah satu waktu yang Faadhil. Waktu yang utama. Dimana Allah Azza wa Jalla meninggikan kedudukan bulan Muharam, dan menjadikannya salah satu dari empat bulan Haram, atau bulan yang suci.

Untuk itulah wahai saudaraku se-Iman se-Aqidah, kita selaku seorang muslim, tertuntut untuk mengagungkannya, dan mengisi bulan Muharam ini dengan amalan-amalan yang telah diarahkan, dan dicontohkan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam . Dan ingat ! jangan menyikapi bulan ini dengan dingin, tanpa upaya, atau malah di bulan Muharam ini, kita tak mampu mengendalikan diri untuk berbuat pelanggaran-pelanggaran. Naudzubillahi mindzalik.

Semoga, di Bulan Muharam ini kita selalu tergugah, dan selalu memperoleh taufiq dari Allah Azza wa Jalla untuk menjalani salah satu bulan Haram ini, dengan amal ketaatan, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan Para Sahabat Ridwanallahu 'Alaihim Jamian.

Jadi, kita selaku seorang muslim, sudah barang tentu, harus selalu berada di dalam ketaqwaan kepada Allah Azza wa Jalla. Selain itu, kita haruslah selalu memperhatikan perjalanan hidup kita , gaya hidup kita, life style kita, serta pergantian siang dan malam. Karna pada hakikatnya, life style kita, gaya hidup kita, serta perjalan hidup kita, merupakan perjalanan untuk menempuh jalan ke akhirat. Dimana setiap ada hari yang berlalu, setiap ada waktu yang lewat, maka hal tersebut berarti kita semangkin jauh dari dunia kita, semakin jauh dari kehidupan kita, dan tentunya kita semakin dekat dengan kematian, semangkin dekat dengan alam kubur, dan tentunya semakin dekat dengan akhirat kita.

Maka dari itu wahai saudaraku yang mencintai Sunnah, berbahagialah orang-orang yang selalu bisa mengisi waktunya , bisa mengisi hari-harinya, dengan sesuatu yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla. Berbahagialah wahai saudaraku, orang yang mampu menyibukkan dirinya dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, dan menghindari diri dari kemaksiatan. Dan tentunya, berbahagialah orang-orang yang bisa mengambil pelajaran, dari perubahan berbagai masalah dan kondisi, dari hari-hari dan waktu-waktu yang dilaluinya. Selain itu, berbahagialah orang-orang yang meyakini, adanya hikmah-hikmah Allah Subhanahu Wata 'ala yang agung, dan rahasia-rahasia-Nya, dengan melihat kepada perubahan berbagai hal dan kondisi dilingkungan kita.

Dan...........Adakah diri kita termasuk kedalam orang-orang yang berbahagia ini ?. Mari saudaraku se-Iman se-Aqidah, kita jadikan hidup kita, perjalan hidup kita, life style kita, dengan menjadi bagian dari orang-orang yang berbahagia ini. Allah Azza wa Jalla telah mengingatkan kita agar kita mampu untuk selalu memperhatikan perjalanan kehidupan kita. Sebagaimana Qur’an Surah An-Nur ayat 44 (yang artinya) “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.’

Kemudian kita ketahui bersama, bahwa dimasyarakat kita ada pemikiran “Ini Bulan Muharram !, jangan mengadakan hajatan pada bulan ini, nanti bisa sial.” Nah begitulah kata sebagian orang di negeri kita ini. Jadi, ketika hendak mengadakan hajatan, maka mereka memilih hari atau bulan yang bukan bulan Muharram, mereka lantas memilih hari atau yang dianggap sebagai hari atau bulan baik yang bisa mendatangkan keselamatan atau barakah. Mereka menghindari hari atau bulan yang dianggap sebagai hari-hari buruk, yang bisa mendatangkan kesialan atau bencana. Seperti bulan Muharram ini, atau yang dikenal dengan bulan Suro, bulan yang sudah memasyarakat sebagai bulan pantangan untuk keperluan hajatan. Bahkan kebanyakan dari mereka meyakininya, bahwa hal ini sebagai prinsip dari agama Islam.

Lantas ! Apakah memang benar hal ini disyariatkan atau justru dilarang oleh agama?

Wahai saudaraku yang mencintai Sunnah, kita haruslah tawadhu’ untuk senantiasa menerima kebenaran yang datang dari Al Qur’an dan As Sunnah, sebagaimana yang telah dipahami oleh para sahabat Rasulullah ?.

Ketahuilah, orang yang beranggapan bahwa bulan muharram atau bulan suro adalah bulan yang dilarang didalamnya untuk melakukan hajatan, mereka itu kebanyakan hanya sebatas ikut-ikutan, atau mengekor tradisi yang telah biasa berjalan di suatu tempat. Ketika kita tanyakan kepada mereka, “Mengapa anda berkeyakinan seperti ini ?” Niscaya mereka akan menjawab bahwa ini adalah keyakinan para pendahulu atau sesepuh yang terus menerus diwariskan kepada generasi setelahnya. Sehingga tidak jarang kita dapati generasi muda muslim nurut saja dengan “apa kata orang tua”, demikianlah kenyataannya. Dimana, dalil “apa kata orang tua”, tentunya bukanlah jawaban ilmiah yang pantas diucapkan dari seorang muslim yang mencari kebenaran. Apalagi permasalahan ini menyangkut baik dan buruknya aqidah seseorang. Maka sudah barang tentu, permasahan ini harus didudukkan dengan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah. Benarkah hal tersebut atau justru hal tersebut dilarang oleh agama?

Untuk itu ketahuilah wahai saudaraku, bahwa sikap selalu mengekor dengan apa kata orang tua dan tidak memperdulikan dalil-dalil syar’i, merupakan perbuatan yang tercela. Karena sikap ini menyerupai sikap orang-orang Quraisy ketika diseru oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana Qur’an surah Az-Zukhruf ayat 22 (yang artinya) : “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.”

Selain itu, Jawaban seperti ini juga mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Ibrahim Alaihis sallam, ketika mereka diseru untuk meninggalkan peribadatan kepada selain Allah. Sebagaimana Qur’an Surah Asy-Syu’ara ayat 74 (yang artinya) : “Kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala).”

Demikian juga Fir’aun dan kaumnya, mengapa mereka ditenggelamkan di lautan? Karna mereka enggan untuk menerima seruan Nabiyullah Musa, Sebagaimana Al-Qur’an Surah Yunus ayat 78, mereka mengatakan:
“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya …”
dan masih banyak lagi hal seperti ini yang Allah azza wa Jalla abadikan dalam Al-Qur’an. Dan demikianlah, setiap rasul yang Allah utus, mendapatkan penentangan dari kaumnya, dengan alasan bahwa apa yang mereka yakini merupakan keyakinan nenek moyang mereka. “Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” Qur’an Surah Al Baqarah ayat 170.

Wahai saudaraku yang membenci Bid’ah dan kesyirikan, perhatikanlah apa yang tercantum di dalam Al-Qur’an, mereka menjadikan perbuatan yang dilakukan oleh para pendahulu mereka sebagai dasar dan alasan untuk beramal, padahal telah nampak bukti-bukti kebatilan yang ada pada mereka. Tentunya, kita meyakini, bahwa Agama Islam yang datang sebagai petunjuk dan rahmat bagi semesta alam, telah mengajarkan kepada umatnya agar mereka senantiasa mengikuti dan mengamalkan agama ini, di atas bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman didalam Surah Al-A’raf ayat 3 yang artinya : “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.”

Dan ketahuilah wahai saudaraku, jika masih ada keyakinan dari sebagian kaum muslimin, yang enggan untuk mengadakan hajatan , baik berupa walimah, atau sebagainya, pada bulan Muharram atau bulan-bulan tertentu lainnya, yang disebabkan karna menganggap bahwa bulan-bulan tersebut bisa mendatangkan bencana atau musibah kepada orang yang berani mengadakan hajatan pada bulan tersebut. Maka keyakinan seperti ini, didalam syariat agama yang haq dan lurus ini, termasuk dalam perbuatan Tathayyur (تَطَيُّر) atau Thiyarah (طِيَرَة), yakni suatu anggapan bahwa suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, atau tempat tertentu. Misalkan seseorang hendak pergi berjualan, namun di tengah jalan dia melihat kecelakaan, akhirnya orang tadi tidak jadi meneruskan perjalanannya, karena menganggap kejadian yang dilihatnya itu akan membawa kerugian dalam usahanya. Bahkan Orang-orang jahiliyyah dahulu meyakini bahwa Tathayyur ini dapat mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat. Namun setelah Islam datang, keyakinan ini dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus dijauhi. Dan Islam datang, untuk memurnikan kembali keyakinan, bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah, dan islam membebaskan hati ini dari ketergantungan kepada selain-Allah. Didalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 131 Allah azza wa Jalla berfirman “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” Untuk itu, sudah sepatutnyalah kita mengetahui dan memahami, bahwa Tathayyur atau Thiyarah Termasuk Kesyirikan Kepada Allah. Seseorang yang meyakini, bahwa barangsiapa yang mengadakan acara walimahan atau hajatan yang lain pada bulan Muharram, maka ia akan ditimpa kesialan dan musibah, maka orang tersebut telah terjatuh ke dalam kesyirikan kepada Allah.

Didalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan At-Tirmidzi, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda :

الطِّـيَرَةُ شِـرْكٌ
“Thiyarah itu adalah kesyirikan.”

Dan yang tak kalah penting untuk kita ketahui, bahwa Tathayyur atau Thiyarah digolongkan ke dalam perbuatan syirik karena beberapa hal, di antaranya: Karna Seseorang yang berthiyarah berarti dia meninggalkan tawakkalnya kepada Allah. Padahal tawakkal merupakan salah satu jenis ibadah yang Allah Azza wa Jalla perintahkan kepada hamba-Nya.

Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, semuanya di bawah pengaturan dan kehendak-Nya, keselamatan, kesenangan, musibah, dan bencana, semuanya datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman didalam Surah Hud ayat 56 (yang artinya): “Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu, tidak ada suatu makhluk pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasai sepenuhnya).”

Kemudian, Tathayyur atau Thiyarah digolongkan ke dalam perbuatan syirik, karena Seseorang yang bertathayyur berarti dia telah menggantungkan sesuatu kepada perkara yang tidak ada hakekatnya, yang tidak layak untuk dijadikan tempat bergantung. Ketika seseorang menggantungkan keselamatan atau kesialannya kepada bulan Muharram atau bulan-bulan yang lain, ketahuilah bahwa pada hakekatnya bulan Muharram itu tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Hanya Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Sebagaimana Surah Al-ikhlas ayat 2 (yang artinya): “Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.”

Dan patut kita cermati dan pelajari, bahwa orang yang tathayyur tidaklah terlepas dari dua keadaan; Pertama : meninggalkan semua perkara yang telah dia niatkan untuk dilakukan.

Dan yang Kedua: orang tersebut melakukan apa yang dia niatkan, namun di atas perasaan was-was dan khawatir. Maka tidak diragukan lagi bahwa dua keadaan ini sama-sama mengurangi nilai tauhid yang ada pada dirinya.

Lantas Bagaimana Menghilangkannya?

Sesungguhnya syariat yang Allah turunkan ini tidaklah memberatkan hamba-Nya. Ketika Allah dan Rasul-Nya melarang perbuatan tathayyur, maka diajarkan pula bagaimana cara menghindarinya.

‘Abdullah bin Mas’ud radiyallahu Anhu, salah seorang sahahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam telah membimbing kita, bahwa tathayyur ini bisa dihilangkan dengan tawakkal kepada Allah. Tentunya Tawakkal yang sempurna, tawakkal dengan benar-benar menggantungkan diri kepada Allah dalam rangka mendapatkan manfaat atau menolak mudharat, dan mengiringinya dengan usaha. Sehingga apapun yang menimpa seseorang, baik kesenangan, kesedihan, musibah, dan yang lainnya, maka dia yakin bahwa itu semua merupakan kehendak yang penuh dengan keadilan dan hikmah dari Allah Azza wa Jalla.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam telah mengajarkan do’a kepada kita sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ

وَ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ

وَ لاَ إِلهَ غَيْرُكَ
“Ya Allah, tidaklah kebaikan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidaklah kesialan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.”

Selain itu saudaraku, kita tentunya perlu mengetahui apa itu Hakekat dari sebuah Musibah. Ketahuilah, bahwa suatu ketika, Allah menghendaki seseorang untuk tertimpa musibah tertentu. Maka musibah itu bukan karena hajatan yang kita lakukan pada bulan Muharram atau bulan lainnya, tetapi musibah itu merupakan ujian dari Allah.
Sungguh orang yang beriman, dengan adanya musibah itu akan semakin menambah keimanannya, karena dia yakin Allah menghendaki kebaikan padanya.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan timpakan musibah padanya.” Hadits riwayat Al Bukhari

Dan Ketahuilah, bahwa musibah yang menimpa seseorang itu juga merupakan akibat dari perbuatannya sendiri. Allah berfirman di dalam Surah Asy Syura ayat 30 (yang artinya): Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri …”
Bisa jadi musibah itu Allah takdirkan kepada kita, disebabkan banyaknya perbuatan maksiat dan kemungkaran yang dilakukan.

Untuk itu ikh, tinggalkan Tathayyur.

Dan salah satu keyakinan seorang muslim adalah, bahwa orang yang mentauhidkan Allah dan membersihkan diri dari segala kesyirikan, ia pasti akan masuk ke dalam Al Jannah. Hanya saja sebagian dari kaum muslimin, akan merasakan adzab sesuai dengan kehendak Allah dan tingkat kemaksiatan yang dilakukannya. Namun di antara kaum muslimin ada sekelompok orang yang dijamin masuk ke dalam Al Jannah secara langsung, tanpa dihisab dan tanpa diadzab. Jumlah mereka adalah 70.000 orang, dan tiap-tiap 1.000 orang darinya membawa 70.000 orang. Siapakah mereka?
Mereka adalah orang-orang yang telah disifati Rasulullah dalam sabdanya:
هُمُ الَّذِيْنَ لاَيَسْتَرْقُوْنَ

وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ

وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ
“Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay (suatu pengobatan dengan menempelkan besi panas ke tempat yang sakit), tidak melakukan tathayyur, dan mereka bertawakkal kepada Rabbnya.”
Rawahu Muttafaqun ‘Alaihi.

Meraka ini dimasukkan ke dalam Al Jannah tanpa dihisab dan tanpa diadzab karena kesempurnaan tauhid mereka. Dimana Ketika ditimpa kesialan atau kesusahan, mereka tidak menyandarkan kepada hari ataubulan tertentu atau tanda-tanda tertentu, namun mereka senantiasa menyerahkan semuanya kepada Allah. Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga bermanfaat. Dan semoga Allah selalu mencurahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin.