Selasa, 26 Agustus 2008

Malu adalah Hakekat Kehidupan

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirahhamaanirrahim
Segala puji hanya milik Allah Ta’ala yang telah mempersaudarakan kita kaum muslimin diatas aqidah dan manhaj yang lurus. Kita memohon ampun kepada-Nya dan Kita berlindung kepada-Nya dari segala kejelekan-kejelekan jiwa kita dan dari kejelekan-kejelekan amalan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dia telah mendapat petunjuk dan barangsiapa yang sdisesatkan-Nya maka tiada baginya wali dan pembimbing. Semoga Shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada manusia teladan, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut sunnahnya hingga hari kiamat.
Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah, setelah lama ana tak mengisi ini blog dengan tulisan-tulisan atau pun kutipan - kutipan dari para ustadz dan ahlul ilmu, maka hari ini ana akan memasukkan tulisan ana yang sempat dibawakan oleh rekan-rekan di sebuah Radio Swasta di dalam sebuah program acara, dimana tulisan ini bukan lah murni dari diri ana sendiri melainkan menghambil dari banyak sumber yang insya Allah terjaga ke tsiqohannya yang tegak diatas Sunnah serta manhaj yang haq manhajnya para Sahabat Ridwanallahu 'Alaihim Jamian. tulisan ana kali mengenai sikap dan akhlak dalam menghadapi kehidupan global yang penuh tantangan ini yakni akhlak Malu,.
Wahai Saudaraku, kata malu bukanlah istilah baru dalam perbendaharaan kata kita semua. Bahkan Saudaraku, bagi anak-anak sekalipun, kata malu merupakan kata yang kerap kali terucap. Terlepas apakah mereka memahami hakikat nya atau tidak. Namun kenyataannya , seringkali kita mendengar mereka mengucapkan kata Malu. Belum lagi kalau kita melihat atau menilik kehidupan yang ada sekarang ini, maka sering terungkap kata malu dengan beragam maksud serta maknanya. Ada yang bermaksud memuji, bahkan kata-kata tersebut digunakan untuk mencacai atau menghardik. Namun yang pasti saudaraku, Malu merupakan hal yang secara turun-temurun menjadi syari’at yang disampaikan oleh para nabi yang terdahulu sampai Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Mari perhatikan, hadits berikut yang diriwayatkan oleh al-Imam Al-Bukhari (semoga Allah merahmatinya) dari Sahabat Ibnu Mas’ud Radiyallahu Anhu, ia berkata Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya diantara nasehat yang didapatkan orang-orang dari sabda nabi-nabi terdahulu : “Apa bila tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu.” Jadi saudaraku (semoga kita diberikan ilmu yang bermanfaat oleh Allah Azza Wa jalla) , betapa sifat Malu itu sangat urgen dalam kehidupan seseorang , bahkan "malu" merupakan hal yang tidak boleh hilang dari kehidupan seseorang. lantas saudaraku, Kenapa malu begitu mulia dan diperioritaskan dalam ajaran para Nabi ?
Ketahuilah Saudaraku (semoga Allah memberkahi Kita), karna malu merupakan hakikat kehidupan. Wallahu ‘allam
selanjutnya. yang namanya Kata "malu" jika ditinjau dari segi bahasa (bahasa Arab maksudnya) berasal dari kata yang artinya hidup. Adapun menurut istilah sebagaimana yang disimpulkan oleh para ulama, yang tertulis di dalam Fathul Bariy yang ana kutip dari al-Mawaddah, Malu adalah sebuah akhlaq atau perangai yang memberikan motivasi kepada orang yang memilikinya untuk meninggalkan segala keburukan, dan akan membentengi dirinya dari kecerobohan dalam nenunaikan hak kepada para pemilik hak tersebut.
Dan ternyata yang namanya malu ada dua bagian, dimana malu yang pertama dinamakan Malu Jibiliyah atau malu Tabiat. Malu ini saudaraku merupakan malu yang Allah Azza Wajalla telah anugerahkan kepada seorang hamba, dan menjadikannya sebagai sifat kemanusian hamba tersebut. Adapun Malu yang lainnya yakni Malu Muktasabah. Yakni Malu yang timbulnya disebabkan pengetahuan dan pengenalan seorang hamba terhadap sang Khlaik yakni Allah Azza Wajalla, dimana hamba tersebut mengetahui akan kebesaran Allah, mengetahui bahwa Allah Azza Wajalla dekat, mengetahui bahwa Allah Azza Wajalla mengetahui setiap perkara baik yang tersembunyi maupun yang nampak, mengetahui bahwa Allah Azza Wajalla selalu memperhatikannya begitu dan seterusnya. Nah malu ini, maksudnya malu Muktasabah merupakan derajat iman paling tinggi, bahkan malu ini juga merupakan derajat ihsan paling tinggi. Wallahu ‘Allam. Dan kadang-kadang yang namanya rasa malu juga muncul disebabkan karena seseorang memperhatikan nikmat-nikmat Allah, dan merasakan bahwa dia sangat kurang dalam bersyukur akan nikmat Allah.
berikut ini ana kutipkan tulisan al Ustadz Abu Qutadah sebagaimana yang ana kutip dari al-Mawaddah, malu bisa dilihat dari wujud kemunculannya pada diri seseorang. Yakni Malu yang terpuji dan malu yang tercela. Adapun malu yang terpuji ialah malu yang menjadi pendorong untuk selalu berbuat kebaikan dan membentengi diri dari berbuat keburukan. Sedangkan malu yang tercela yakni malu yang justru menjadi penghalang seseorang dalam melakukan kebaikan , seperti malu untuk talabul ilmi , malu bertanya akan sesuatu yang ia tidak tahu, malu mengamalkan sunnah karna takut dihina dan dicerca, malu mengamalkan sunnah karna tidak lazim digunakan masyarakat, malu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan malu untuk beribadah atau malah malu untuk menempuh semua ketaatan. Dan malu yang seperti ini saudaraku bukanlah malu yang sebenarnya , akan tetapi malu ini adalah jerat-jerat Syaitan, yang menjauhkan kita dari Allah Azza Wajalla . Wallahu a'lam bish-shawab.
semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat. insya Allah masih ada yang ingin ana sampaikan mengenai malu ini , semoga di lain hari dapat ana posting.

1 komentar:

faisol mengatakan...

terima kasih sharing ilmunya...
saya membuat tulisan tentang "Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?"
silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/