Selasa, 15 September 2009

Seputar Ramadhan "Hal-hal yang harus ditinggalkan orang yang berpuasa"

Alhamdulillah…

Ana lanjutkan postingan Seputar Ramadhan dengan meneladani Saum Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam, yang Insya Allah pada postingan kali ini akan berisikan mengenai hal-hal yang harus ditinggalkan oleh orang-orang yang menjalankan puasa. Seperti biasa maraji’ serta manfaat dari postingan ini ana ambilkan dari kitab Shifatu Shaumin Nabi fii Ramadhaan karya Syaikh Salim ‘Ied al Hilali Hafidzahullah dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali al-Halabi al-Atsari Hafidzahullah, semoga bermanfaat bagi ana dan bagi Ikhwa fillah sekalian.

Wahai saudaraku yang mencintai Sunnah, sebagaimana yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa yang namanya orang berpuasa adalah orang yang menahan seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan dosa, misalnya menjaga lidah dari berkata dusta, berbicara keji dan berkata licik, serta menahan perutnya dari minuman dan makanan, juga kemaluannya dari perbuatan keji. Jadi Kalau toh harus berbicara, maka orang yang berpuasa haruslah menyampaikan kata-kata yang serta tidak menodai puasanya. Dan kalau pun akhirnya harus berbuat sesuatu, maka orang yang berpuasa harus melakukan sesuatu yang tidak merusak puasanya. Sehingga dengan demikian, ungkapan yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang baik dan perbuatannya pun berwujud amal shalih.

Nah puasa yang seperti inilah yang disyariatkan. Yakni puasa yang tidak hanya sekedar menahan rasa lapar dan haus serta hawa nafsu, melainkan puasa yang membentengi diri dari perbuatan dosa dan menahan perut dari makanan dan minuman . Jadi, sebagaimana yang telah ana postingkan sebelumnya bahwa yang namanya makan dan minum dapat merusak puasa, begitu juga dengan perbuatan dosa, dimana perbuatan dosa, dapat memutuskan pahala, merusak buahnya, hingga akhirnya menempatkan pelakunya pada posisi yang sama dengan orang yang tidak berpuasa.

Adapun Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam sendiri, telah memerintahkan seorang muslim yang berpuasa untuk menghiasi diri dengan akhlak mulia serta menjauhi perbuatan keji dan kata-kata kotor, pembicaraan yang hina dan sesuatu yang tidak ada gunanya. Dan semua hal buruk tersebut, sekalipun seorang muslim diperintahkan untuk menjauhi dan menghindarinya setiap hari, sesungguhnya larangan itu lebih ditekankan pada saat menjalankan ibadah puasa wajib yakni puasa Ramadhan. Maka dari itu saudaraku se-Iman se-aqidah, diwajibkan bagi setiap muslim yang menjalankan ibadah puasa untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menodai puasanya, sehingga kita bisa memperoleh manfaat dengan puasa yang dijalankan dan tercapai pula ketakwaan, sebagaimana yang disebutkan Allah Azza Wa jalla di dalam firman-Nya di Surah Al-baqarah ayat 183 :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Dan tentunya, sebagaimana yang juga sudah kita ketahui bersama bahwa yang namanya puasa itu merupakan sarana penghubung untuk menuju ketakwaan, karena puasa bisa menahan diri kita dari berbagai macam kemaksiatan yang senantiasa menjadi incaran. Dan hal ini Ikhwa fillah didasarkan pada Sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam yang mana dinyatakan disana bahwa “Puasa itu adalah benteng pertahanan atau perisai, dan untuk lebih jelasnya antum dapat melihat hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al Bukhari dan Imam muslim (semoga Allah merahmatinya) yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud yang sangat popular atau hadits lain yang serupa seperti hadits yang dibawakan oleh Imam Ahmad (semoga Allah merahmatinya) dari sahabat Jabir Radhiyallahu Anhu dan juga dari ‘Utsman bin Abil ‘Ash Radhiyallahu Anhu.

Dan ada ungkapan yang bagus saudaraku, yang dapat membuat kita untuk selalu berhati-hati dan berjaga-jaga agar kita tidak terjebak kedalam kesalahan dan kejahatan. Dimana ungkapan tersebut isinya :

“Aku mengetahui kejahatan bukan untuk berbuat jahat, tetapi untuk menghindarinya. Dan orang yang tidak mengetahui kebaikan dari kejahatan, niscaya dia akan terjerumus di dalamnya.”

Untuk itu kita perlu mengetahui hal-hal yang jelek yang dapat merusak ibadah puasa kita.

Nah salah satu dari yang harus kita ketahui serta ditinggalkan oleh orang-orang yang menjalankan puasa yakni Qauluz Zuur atau berkata-kata palsu alias dusta

Al -Imam al Bukhari Rahimahumullah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia bercerita, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :


مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ


وَالْعَمَلِ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ عَزَّوَجَلَّ


حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.


“Barangsiapa yang tidak meninggalkan Qauluz Zuur (kata-kata palsu) dan mengamalkannya, maka Allah Azza Wa jalla tidak memerlukan orang itu untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).

Adapun perbuatan atau hal lain yang juga harus ditinggalkan orang-orang yang menjalankan puasa selain Qauluz Zuur yakni Pembicaraan yang tidak bermanfaat dan kata-kata Kotor.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : Puasa itu bukan (hanya) dari makan dan minum, tetapi puasa itu dari kata-kata tidak bermanfaat dan kata-kata kotor. Oleh karena itu, jika ada orang yang mencacimu atau membodohimu, maka katakanlah kepadanya : “Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim dengan sanad shohih.

Oleh karena itu lah wahai saudaraku yang mencintai Sunnah, muncul ancaman keras dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bagi orang – orang yang melakukan keburukan-keburukan tersebut, dimana beliau (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam) adalah orang yang jujur yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Dimana di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, ad-Darimi, Ahmad dan al-Baihaqi (semoga Allah merahmati mereka semua) dari beberapa jalan, dari Sa’id al-Maqbari, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, beliau (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam) :


رُبَّ صَاأِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَا مِهِ الجُوْعُ وَالْعَطَشُ


“Berapa banyak orang yang berpuasa yang hanya mendapatkan rasa haus dan lapar dari puasanya .” Hadits ini sanadnya shahih. Wallahu ‘Alam

Jadi saudaraku munculnya ancaman –ancaman melalui lisan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dikarenakan banyak orang yang melakukan puasa tidak memahami hakikat puasa yang sebenarnya sebagimana yang telah diperintahkan Allah Azza Wa jalla. Sehingga Allah Azza Wa jalla membalas hal tersebut dengan mengharamkannya dari pahala dan ganjaran.

Untuk itulah saudaraku. Bagi seorang hamba yang taat dan memahami Al-Qur’an dan as-Sunnah tidak akan pernah ragu dalam bertindak karna batasan yang disyariatkan telah jelas dan Allah Azza Wa jalla sesungguhnya menghendaki kemudahan bagi hamba-hamba-Nya dan tidak menghendaki kesulitan sama sekali untuk umat-Nya.

0 komentar: